Aturan Karantina Ketat Hong Kong Disebut Bahayakan Kesehatan Mental Pilot
Dunia

Sementara itu maskapai besar lainnya yang merupakan saingan Cathay Pacific seperti Qantas Airways Ltd dari Australia telah melonggarkan kebijakan mereka.

WowKeren - Salah satu maskapai penerbangan terbesar di Asia, Cathay Pacific, tengah menghadapi pemberontakan dari para pilotnya. Menurut pilot, aturan karantina yang ketat di bahwa kebijakan zero-COVID Hong Kong justru membahayakan kesehatan mental mereka.

Hal itu terlihat dari semakin meningkatnya angka stres dan bunuh diri. Pekan lalu saja, Cathay Pacific Airways Ltd telah memecat tiga pilot yang melanggar aturan perusahaan dengan meninggalkan kamar hotel mereka selama singgah di Frankfurt dan kemudian dinyatakan positif COVID-19.

Sebagai tanggapan, pemerintah memaksa lebih dari 270 orang menuju ke tempat karantina yang disediakan oleh pemerintah. Mereka termasuk anak-anak sekolah yang terkait dengan keluarga mereka. Beberapa pilot menyatakan diri mereka tidak layak terbang untuk tugas pertama mereka setelah dibebaskan.

Contoh ekstrem dari tindakan pencegahan terkait pandemi di bawah kebijakan nol-COVID Tiongkok menyoroti kondisi kerja yang sulit yang dihadapi oleh pilot Cathay. Mereka semua telah divaksinasi sepenuhnya, bahkan ketika negara-negara Asia lainnya perlahan-lahan dibuka kembali.


Sementara itu maskapai besar lainnya yang merupakan saingan Cathay Pacific seperti Qantas Airways Ltd dari Australia telah melonggarkan kebijakan mereka. Namun sebaliknya, Hong Kong justru masih memperketat aturan lebih jauh sesuai dengan Tiongkok, berharap meyakinkan Beijing untuk mengizinkan perjalanan lintas batas.

"Saya rasa saya tidak bisa melanjutkan ini," kata seorang pilot Cathay kepada Reuters. "Saya stres karena potensi karantina keluarga dan teman-teman saya yang mengambil korban."

Beberapa pilot Cathay saat ini dan yang baru saja berangkat mengatakan bahwa jumlah pengunduran diri meningkat. Itu terjadi setahun setelah banyak dari mereka harus menghadapi pemotongan gaji secara permanen sebesar 58 persen.

Sejumlah pilot juga menyatakan frustrasi dengan aturan yang bersifat ambigu yang diterapkan pemerintah terkait pandemi. Misalnya aturan yang meminta mereka untuk menghindari kontak sosial yang tidak perlu selama tiga minggu setelah kembali ke Hong Kong. Namun di lain sisi, mereka tidak diberi waktu istirahat sebagai kompensasi.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait