Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea mencatat ada 94 pasien COVID-19 meninggal dunia dalam 24 jam terakhir. Jumlah pasien yang mengalami kondisi serius atau kritis juga memecahkan rekor dengan total 906 orang.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 15 Desember 2021 - 10:27 WIB
WowKeren - Pada Selasa (14/12), Korea Selatan mencatatkan hari paling mematikan selama pandemi COVID-19. Penularan virus yang didorong oleh Varian Delta terus menyebar hingga membuat rumah sakit kewalahan dan orang-orang sekarat sembari menunggu ketersediaan tempat tidur RS.
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea mencatat ada 94 pasien COVID-19 meninggal dunia dalam 24 jam terakhir. Jumlah pasien yang mengalami kondisi serius atau kritis juga memecahkan rekor dengan total 906 orang.
Selain itu, Korsel juga mencatatkan 5.567 kasus positif baru yang merupakan angka tertinggi untuk hari Selasa. Diketahui, kasus COVID-19 harian biasanya lebih kecil pada awal minggu karena jumlah tes yang lebih sedikit di akhir pekan.
Hal tersebut menunjukkan virus terus bertambah cepat setelah pemerintah memperketat jarak sosial minggu lalu. Pakar kesehatan memperingatkan bahwa sistem medis negara itu akan mendekati batasnya dengan cepat dan kasus kematian dapat memburuk jika pemerintah terus lamban dan ragu-ragu dalam memperketat jarak sosial.
Pejabat senior Kementerian Kesehatan Korsel, Park Hyang, mengungkapkan bahwa sumber daya medis dengan cepat habis di Seoul dan daerah metropolitan sekitar, dimana sekitar 86 persen ICU sudah ditempati. Lebih dari 1.480 pasien masih menunggu untuk dirawat di rumah sakit atau tempat perawatan. Setidaknya ada 17 pasien meninggal di rumah atau di fasilitas kala menunggu tempat tidur pekan lalu.
Park menyatakan bahwa pejabat dapat memutuskan untuk memperketat pembatasan minggu ini, tergantung dari jumlah infeksi dan rawat inap. Para pejabat sendiri telah menekan pihak rumah sakit untuk menyediakan lebih banyak tempat tidur bagi pasien COVID-19 dan berjuang untuk mempercepat pemberian suntikan booster.
Sementara itu, para ahli menilai lonjakan dahsyat kasus COVID-19 di Korsel menyorot risiko menempatkan masalah ekonomi di atas kesehatan masyarakat. Minggu lalu, Korsel mencatatkan sekitar 6.000 kasus baru per hari, bahkan sempat tiga kali mencatatkan lebih dari 7.000 kasus per hari. Angka tersebut tiga kali lipat lebih banyak dibanding rata-rata 2.000 kasus per hari pada awal November, ketika pemerintah secara signifikan melonggarkan aturan jarak sosial dalam apa yang digambarkan oleh para pejabat sebagai langkah pertama menuju pemulihan normal pra-pandemi.
Meski jumlah infeksi telah meningkat bulan ini, pemerintah ragu-ragu untuk menerapkan kembali pembatasan yang lebih ketat dengan alasan "kelelahan publik". Presiden Moon Jae-in bahkan telah menyatakan bahwa negara itu tidak akan "mundur ke masa lalu".
Para pejabat baru mulai memperketat pembatasan pekan lalu. Mereka melarang pertemuan yang mengumpulkan tujuh orang atau lebih di wilayah Seoul dan sekitarnya. Selain itu, orang dewasa juga diwajibkan untuk memverifikasi status vaksinasi mereka untuk menggunakan restoran dan tempat-tempat dalam ruangan lainnya.
(wk/Bert)