Ada Erupsi Susulan Gunung Semeru: Desa Sumberwuluh Zona Merah, Pencarian Korban Dihentikan
Nasional
Erupsi Semeru

Sebelumnya, terjadi erupsi susulan Gunung Semeru, sehingga kembali menimbulkan dampak bagi masyarakat sekitar. Sementara itu pencarian korban erupsi juga sudah berlangsung selama 13 hari.

WowKeren - Gunung Semeru diketahui kembali mengalami erupsi susulan. Akibatnya, sepuluh dusun di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, menjadi zona merah banjir lahar pada Kamis (16/12).

Adapun 10 dusun yang dimaksud adalah Kebondeliu Utara, Kebondeli Selatan, Kamar Kajang, Kamar Kajang Kuning, Krajan, Kebon Agung, Sukosari, Poncosumo, Sumberwuluh Tengah, dan Kampung Baru. "Karena situasi Desa Sumberwuluh membahayakan, saya harap masyarakat untuk ikuti anjuran (evakuasi)," tutur Syamsul Arifin selaku Sekretaris Desa Sumberwuluh dalam keterangan, Jumat (17/12).

Syamsul menuturkan bahwa anjuran evakuasi itu dilakukan lantaran pada kejadian erupsi sebelumnya, Gunung Semeru dilaporkan mengalami tiga kejadian awan panas guguran dan menyemburkan material lahar dingin. Sehingga, dikhawatirkan aktivitas vulkanik kawah masih akan meningkat, terlebih di saat hujan.

Lebih lanjut, Syamsul mengatakan bahwa akibat dari erupsi susulan itu setidaknya membuat 33 rumah tertimbun material pasir yang dibawa banjir lahar dingin dengan ketinggian 30-80 cm. Meski demikian, tidak ada korban jiwa akibat kejadian erupsi susulan tersebut. Menurutnya, saat ini para warga mulai mengevakuasi harta bendanya di rumah.


Selain itu, Syamsul mengungkapkan tidak ada korban jiwa dari peristiwa banjir lahar dingin kemarin. Selain menghantam permukiman warga, banjir lahar dingin juga mengakibatkan jalan nasional di Desa Sumberwuluh terdampak, kini akses masuk dijaga ketat.

Sementara itu, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menutup pekasanaan operasi SAR erupsi Semeru pada Kamis (16/12). Artinya, proses pencarian korban telah dihentikan. Penghentian proses pencarian ini dihentikan setelah diperpanjang sebanyak 2 kali, dan berlangsung selama 13 hari.

"Setelah melaksanakan evaluasi bersama seluruh Potensi SAR yang terlibat dalam operasi SAR, serta pihak keluarga korban yang belum ditemukan, akhirnya kami sepakat untuk menghentikan atau menutup operasi SAR yang sudah berlangsung selama 13 hari ini," tutur Kepala Kantor SAR Surabaya, Hari Adi Purnomo dalam keterangan, Jumat (17/12).

Meski demikian, Hari menerangkan bahwa tim SAR akan melakukan pemantauan dan tetap bersiaga. Sehingga apabila ada informasi valid mengenai korban, maka pencarian akan kembali beroperasi.

Hari menuturkan bahwa melihat aspek efektifitas, juga menjadi pertimbangan tim SAR untuk mengehntikan pencarian korban lantaran kemungkinan hidup dalam kondisi seperti itu sangat kecil kemungkinannya. "Jika erupsi terjadi lagi dan kembali menelan korban jiwa, maka operasi otomatis kami gelar lagi," jelasnya.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts