Jisoo BLACKPINK dan Jung Hae In Romantis Susun Korek Api Berdua di Lokasi 'Snowdrop'
Instagram/jtbcdrama
TV

Video yang dirilis tim 'Snowdrop' memperlihatkan syuting kencan buta. Momen ini adalah pertemuan pertama antara Im Soo Ho (Jung Hae In) dan Eun Young Ro (Jisoo) yang mulai saling tertarik.

WowKeren - Di tengah kontroversi distorsi sejarah yang menimpanya, tim produksi "Snowdrop" tetap gencar berpromosi. Lewat channel YouTube JTBC Drama, tim produksi menghadirkan beberapa video ketika para pemain sibuk di lokasi syuting.

Salah satu momen yang menarik dalam beberapa video di balik layar "Snowdrop" memperlihatkan para pemain syuting kencan buta. Momen ini juga merupakan pertemuan pertama antara Im Soo Ho (Jung Hae In) dan Eun Young Ro (Jisoo BLACKPINK) yang mulai saling tertarik.

Berbeda dari alur drama di mana Im Soo Ho menyusun menara korek api sendiri, video di balik layar justru menunjukkan kekompakan pasangan utama "Snowdrop". Jisoo dan Jung Hae In tampak romantis menyusun menara berdua meskipun suasana begitu ramai dengan persiapan syuting.

Ketika proses syuting dimulai, Jisoo tak ragu untuk menyentuh tangan Jung Hae In berusaha membuat menara korek api tak runtuh. Jisoo dan Jung Hae In harus beberapa kali syuting adegan itu mengambil dari sudut berbeda.


"Snowdrop" sendiri merupakan drama yang mengambil latar tahun 1987, ketika Korea Selatan diperintah oleh pemerintahan diktator. Drama ini mengisahkan kisah cinta antara mata-mata Korea Utara yang menyamar menjadi mahasiswa pascasarjana, Im Soo Ho dan mahasiswi Jurusan Sastra Inggris bernama Eun Young Ro.

Begitu ditayangkan, banyak mempermasalahkan alur "Snowdrop" karena dianggap telah mendistorsi sejarah Korea Selatan. Padahal pihak produksi dan sutradara sudah meyakinkan bahwa drama ini sepenuhnya adalah fiksi dan fokus pada sisi kemanusiaan alih-alih politik.

Bahkan petisi penghentian "Snowdrop" bahkan sudah ditanda tangani ratusan ribu orang. "Di episode 1, yang ditayangkan baru-baru ini, pemeran utama wanita salah memahami pemeran utama pria sebagai mata-mata dan menyelamatkannya," bunyi petisi tersebut.

"Selama gerakan pro-demokrasi, jelas ada korban, seperti aktivis, yang disiksa dan dibunuh karena menjadi mata-mata. Terlepas dari fakta sejarah ini, membuat drama dengan konten seperti itu jelas merusak nilai gerakan demokratisasi," imbuh penulis petisi.

(wk/amal)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait