RI Diprediksi Bisa Catat 60 Ribu Kasus di Puncak Omicron, Eks Petinggi WHO Ungkap Cara Mengendalikan
AFP/Adek Berry
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Kementerian Kesehatan bahkan memprediksi puncak gelombang COVID-19 Varian Omicron di Indonesia terjadi pada Februari 2022 mendatang dengan kasus harian mencapai 60 ribu.

WowKeren - Jumlah kasus COVID-19 Varian Omicron di Indonesia terus bertambah. Hingga Senin (10/1), Kementerian Kesehatan telah mencatatkan 506 kasus Omicron di Tanah Air.

Kementerian Kesehatan bahkan memprediksi puncak gelombang Omicron di Indonesia terjadi pada Februari 2022 mendatang dengan kasus harian mencapai 60 ribu. "Minggu ke-1 atau ke-2 Februari ya (prediksi puncak Omicron). (Kasus harian) sekitar 40.000-60.000 kasus," ungkap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (Dirjen P2P) Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, pada Selasa (11/1) lalu.

Profesor Tjandra Yoga Aditama yang merupakan mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara lantas mengungkapkan upaya yang bisa dilakukan untuk mengendalikan kasus Omicron di Tanah Air. Salah satunya adalah dengan mempersiapkan layanan kesehatan bagi pasien.

"Kesiapan pelayanan kesehatan dari primer, sekunder, dan tersier harus terus ditingkatkan," kata Tjandra dilansir detikcom, Kamis (13/1).

Upaya lain yang harus dilakukan adalah mencari sumber kasus transmisi lokal. Setelah diketahui sumber awalnya, maka akan bisa dicek kemana saja sumber tersebut menularkan virus sehingga semua pasien bisa diisolasi.


Selain itu, Tjandra juga mengungkapkan bahwa tes COVID-19 harus ditingkatkan untuk mengendalikan Omicron. Mengingat banyak kasus Omicron yang tanpa gejala atau hanya mengalami gejala ringan.

Lebih lanjut, pengawasan terhadap pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) harus diperketat. Jika ada PPLN terpapar Omicron, maka informasi tersebut bisa disampaikan ke negara asalnya melalui mekanisme International Health Regulation (IHR). Dengan demikian, otoritas di negara itu bisa melakukan testing dan tracing dari kemungkinan sumber penular di negara itu.

Upaya lain adalah dengan mempercepat laju vaksinasi COVID-19. Hingga saat ini, masih ada 56 persen lansia yang belum divaksinasi secara penuh.

"Pemberian booster jangan sampai mengorbankan upaya pemberian vaksin yang 2 kali yang mutlak amat diperlukan," kata Prof Tjandra.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa penambahan kasus Omicron masih didominasi oleh PPLN. Namun sudah ada 84 kasus yang merupakan transmisi lokal. Oleh sebab itu, Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi gelombang Omicron yang sangat cepat menular.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts