Studi Terbaru Inggris Ungkap COVID-19 Masih Bisa Menular Usai 5 Hari Karantina
corona.riau.go.id
Dunia
Pandemi Virus Corona

Peneliti dari Inggris mendapati pasien COVID-19 masih berpotensi menularkan penyakitnya bahkan setelah menjalani 5 hari karantina. Padahal saat ini masa karantina pasien banyak yang sudah dipangkas.

WowKeren - Beberapa negara memutuskan untuk memangkas masa karantina pasien COVID-19 menjadi lima hari saja. Mereka mengklaim COVID-19 sudah tidak bisa lagi menular setelah lima hari.

Namun studi terbaru dari Inggris menyebut sepertiga dari pasien COVID-19 masih bisa menularkan penyakitnya setelah lima hari karantina. Bukan hanya itu, bahkan peneliti menemukan satu dari 10 pasien mungkin masih bisa menularkan penyakitnya setelah 10 hari karantina.

Adalah peneliti dari University of Exeter Medical School di Inggris yang menemukan bahwa tes PCR masih mendeteksi partikel virus pada pasien yang sudah menjalani lima hari karantina. Meski demikian, mereka tidak bisa memastikan apakah virus tersebut masih infeksius atau bisa menular, atau hanya sisa-sisa yang sudah tidak aktif.

Mereka mengamati sampel yang diperoleh dari pasien COVID-19 periode Maret hingga November 2020. Sampel para pasien diuji kembali, kali ini spesifik mencari materi genetik pada virus Corona yang bertanggung jawab membentuk salinan diri sendiri dan masih mampu menular.


"Setelah lima hari, 30 persen orang masih menunjukkan level virus yang berpotensi aktif secara klinis," ujar pimpinan riset, Lorna Harries. Tak hanya itu, peneliti juga menemukan kondisi seperti ini bahkan pada pasien yang sudah menjalani 68 hari karantina.

"Tidak ada gejala klinis yang sangat disoroti dari pasien-pasien ini," jelas Harries dan tim yang mempublikasikan penelitiannya di International Journal of Infectious Diseases, dikutip dari Malay Mail, Sabtu (15/1). "Dengan kata lain kami tidak bisa benar-benar memprediksi siapa saja mereka (pasien seperti apa yang bisa mengalami kondisi seperti ini)."

Yang patut digarisbawahi pula, studi ini menggunakan sampel pasien COVID-19 yang terinfeksi non-varian Delta dan Omicron. Padahal diketahui varian Delta dan Omicron memiliki tingkat penularan yang jauh lebih tinggi ketimbang varian awal COVID-19.

Karena itulah, Harries berjanji akan menggelar penelitian yang lebih besar untuk memastikan temuan mereka. Selama menanti hasil studi, Harries menyarankan fasilitas kesehatan untuk benar-benar mengantisipasi kemampuan penularan virus.

(wk/elva)


You can share this post!


Related Posts