Evakuasi Penduduk Sipil Dari Kota Mariupol Ukraina Lagi-lagi Gagal, Warga Ungkap Situasi Ngeri
AP Photo/Evgeniy Maloletka
Dunia

Ratusan warga sipil telah tewas dan ribuan orang dilaporkan terluka, dengan ratusan ribu orang yang kebanyakan wanita dan anak-anak mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Polandia, Rumania atau Moldova untuk berlindung.

WowKeren - Upaya evakuasi penduduk sipil di kota pelabuhan Mariupol, Ukraina, telah dilakukan sejak Sabtu (5/3) lalu. Meski demikian, upaya evakuasi tersebut telah gagal untuk hari kedua berturut-turut dengan Ukraina dan Rusia saling menyalahkan karena melanggar gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.

"Di tengah pemandangan penderitaan manusia yang menghancurkan di Mariupol, upaya kedua hari ini untuk mulai mengevakuasi sekitar 200.000 orang ke luar kota terhenti," demikian pernyataan Komite Palang Merah Internasional, Minggu (6/3).

Gencatan senjata harusnya berlangsung dari tengah hari sampai jam 9 malam waktu setempat untuk memungkinkan warga sipil pindah dari Mariupol ke Zaporizhzhia. Para warga sipil rencananya diangkut dengan menggunakan bus ke Zaporizhzhia.

"Apa yang kami lihat adalah peningkatan jumlah kendaraan pribadi yang membawa keluarga keluar; tidak ada tanda-tanda konvoi (rombongan bus) itu," ungkap Charles Stratford dari Al Jazeera.


Sementara itu, penembakan dan serangan baru membuat jumlah pengungsi yang melarikan diri melonjak. Ratusan warga sipil telah tewas dan ribuan orang dilaporkan terluka, dengan ratusan ribu orang yang kebanyakan wanita dan anak-anak mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Polandia, Rumania atau Moldova untuk berlindung.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyalahkan Ukraina karena tidak menepati "kesepakatan yang dicapai mengenai masalah kemanusiaan akut ini". Sedangkan Gubernur Donetsk, Pavlo Kirilenko, mengatakan "kendaraan untuk mengevakuasi penduduk tidak dapat meninggalkan Mariupol" karena pasukan Rusia "mulai membombardir kota".

Hanya sedikit warga sipil yang berhasil keluar dari Mariupol pada hari Sabtu. Satu keluarga yang tidak mau disebutkan namanya tiba di pusat kota Dnipro dan menceritakan pengalaman mengerikan mereka.

"Kami tinggal di ruang bawah tanah selama tujuh hari tanpa pemanas, listrik atau internet dan kehabisan makanan dan air," kata salah satu anggota keluarga tersebut. "Di jalan, kami melihat ada mayat di mana-mana, orang Rusia dan Ukraina... Kami melihat orang-orang telah dikuburkan di ruang bawah tanah mereka."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait