Invasi Belum Juga Berakhir, Biaya Hidup di Rusia Kini Meningkat Drastis
Pxhere
Dunia
Konflik Rusia dan Ukraina

Invasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina sejak bulan Februari lalu, kini tampaknya dampaknya juga mulai dirasakan oleh masyarakat Rusia, khususnya pada sektor ekonomi.

WowKeren - Rusia disebut mulai merasakan kesulitan ekonomi setelah negara-negara Barat menjatuhkan serangkaian sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pasalnya, invasi yang dilakukan Rusia itu telah dikecam oleh banyak negara di dunia.

Seperti yang diketahui, setelah ketegangan meningkat selama berminggu-minggu, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi darat, laut dan udara pada 24 Februari, memicu gelombang pembatasan keuangan yang telah menjatuhkan nilai rubel, meroketnya inflasi , dan menyebabkan banyak pengangguran.

Sementara itu, Putin dalam pidatonya kepada para menteri pemerintah yang disiarkan pada Rabu (16/3), Putin bersikeras bahwa Rusia dapat menahan "blitzkrieg ekonomi". Adapun sanksi dari negara Barat atas invasi Rusia memengaruhi kehidupan sehari-hari bagi masyarakat Rusia di antaranya inflasi yang meningkat.

Pada Rabu (16/3), Badan statistik resmi Rosstat mengatakan bahwa inflasi adalah 2,1 persen antara 5-11 Maret, angka mingguan tertinggi kedua dalam lebih dari 20 tahun. Kemudian menurut Kementerian Ekonomi, inflasi tahunan melonjak menjadi 12,5 persen pada 11 Maret dari 10,4 persen pada minggu sebelumnya.

Sementara Surat Kabar Bisnis Kommersant melaporkan adanya kenaikan 10,4 persen harga pangan sejak 26 Februari hingga 4 Maret 2022. Bahkan kenaikan itu disebut menjadi yang tertinggi sejak tahun 1998 silam.


Salah seorang masyarakat Rusia yang diketahui identitasnya sebagai Ivan melalui media sosial mengungkapkan bahwa ada kenaikan harga ikan tuna kalengan yang semula 130 rubel, kini menjadi 160-180 rubel. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa ketersediaan gula menjadi langka.

Sementara mata uang Rusia sendiri diketahui telah kehilangan sekitar 20 persen nilainya selama tiga minggu terakhir. Sehingga memicu banyak pengecer untuk menaikkan harga mereka.

Kemudian imbas invasi itu juga membuat keberadaan obat menjadi langka. Salah seorang warga yang tinggal di Saint Petersburg, menggambarkan antrean tanpa akhir di depan apotek dengan harga obat-obatan yang meningkat. Ia mengaku teman-temannya bahkan mempertimbangkan untuk pergi ke Finlandia untuk mendapatkan obat yang dibutuhkan.

Tidak hanya itu, invasi Rusia itu juga membuat angka pengangguran menjadi meningkat. Seperti yang diketahui, bank Rusia telah dihapus dari sistem pembayaran internasional SWIFT, yang berarti perusahaan seperti Visa, Mastercard, dan lainnya akan membatasi layanan mereka.

Kemudian penutupan perusahaan asing seperti Apple dan IKEA juga turut membuat angka pengangguran di Rusia menjadi meningkat. Selanjutnya, penutupan restoran cepat saji AS, McDonald's juga membuat sekitar 62 ribu orang kehilangan pekerjaannya.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts