Korut Alami 'Gejolak Besar', Catat 21 Kematian Baru Pasca 2 Hari Umumkan Kasus COVID Pertama
Dunia
Pandemi Virus Corona

Korea Utara baru menghadapi serangan pandemi COVID-19 saat negara lain tengah menuju tahap pemulihan. Kini Korea Utara melaporkan ada 21 kasus kematian baru.

WowKeren - Korea Utara mengumumkan kasus COVID-19 pertama mereka pada Kamis (12/5) lalu dan langsung memberlakukan lockdown. Meski begitu, penularan COVID tampaknya tak bisa dengan mudah dicegah.

Dua hari setelah pengumuman kasus COVID pertama, Korea Utara laporkan 21 kematian harian baru di antara orang-orang yang menderita demam. Sebelumnya, Korea Utara telah mengumumkan 6 kematian akibat demam pasca mengumumkan kasus pertama COVID.

Sabtu (14/5), pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un mengatakan bahwa penyebaran COVID-19 telah mendorong negaranya ke dalam "kekacauan besar". Kim Jong In pun menyerukan pertempuran habis-habisan untuk mengatasi wabah itu.

Korea Utara membuat pengakuan yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang wabah COVID pertamanya dan langsung memberlakukan lockdown nasional.. Tetapi tidak ada tanda-tanda pengujian ketat atau kampanye pengobatan sedang berlangsung.

"Penyebaran epidemi ganas adalah gejolak besar yang menimpa negara kita sejak didirikan," kantor berita negara KCNA mengutip pernyataan Kim dalam pertemuan darurat Partai Buruh yang berkuasa di negara itu.


"Tetapi jika kita tidak kehilangan fokus dalam menerapkan kebijakan epidemi dan mempertahankan kekuatan dan kontrol organisasi yang kuat berdasarkan kesatuan partai dan rakyat yang berpikiran tunggal dan memperkuat pertempuran epidemi kita, kita dapat lebih dari mengatasi krisis," sambungnya.

Mengingat kemampuan pengujian Korea Utara yang terbatas, jumlahnya mungkin mewakili sebagian kecil dari total kasus dan dapat menyebabkan ribuan kematian di salah satu dari hanya dua negara tanpa kampanye vaksinasi, kata para ahli.

Pertemuan Partai Buruh mendengar laporan sekitar 280.810 orang dirawat dan 27 kematian sejak demam yang tidak diketahui asalnya dilaporkan mulai akhir April, lapor KCNA. Tapi media pemerintah itu tidak mengatakan apakah kematian baru itu karena COVID. Sementara satu kematian telah dikonfirmasi karena varian Omicron pada Jumat (13/5).

Sejak akhir April, 524.440 orang telah menunjukkan tanda-tanda demam, termasuk 174.440 kasus baru pada Jumat, kata KCNA. Sekitar 243.630 telah dirawat tetapi KCNA belum mengatakan berapa banyak orang yang telah diuji atau mengkonfirmasi jumlah total kasus COVID.

Korea Utara telah menguji sekitar 1.400 orang seminggu, menurut Kee Park dari Harvard Medical School yang telah bekerja pada proyek perawatan kesehatan di negara itu. Hampir tidak cukup untuk mensurvei ratusan ribu orang dengan gejala.

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts