Kekurangan Vaksin, Korut Disebut Lawan COVID-19 Pakai Antibiotik dan 'Jamu' Rumahan
Dunia
Pandemi Virus Corona

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengirimkan beberapa peralatan kesehatan dan persediaan lainnya ke Korut, tetapi belum mengatakan obat apa yang dikirimnya.

WowKeren - Setelah dua tahun mengklaim "bebas COVID-19", Korea Utara baru-baru ini melaporkan kasus COVID-19 pertama mereka. Korut juga telah melaporkan sejumlah kasus kematian yang diduga terkait COVID-19.

Meski begitu, Korut merupakan satu dari dua negara terakhir yang masih belum memulai kampanye vaksinasi COVID-19. Dengan anggapan tidak adanya vaksin, Korut disebut menggunakan antibiotik dan "jamu" rumahan untuk memerangi wabah COVID-19.

Korut kini memobilisasi pasukan termasuk tentara dan kampanye informasi publik untuk memerangi apa yang diakui pihak berwenang sebagai wabah "ledakan". Wakil Menteri Kesehatan Masyarakat Korut, Kim Hyong Hun, mengatakan negara itu telah beralih dari karantina ke sistem perawatan untuk menangani ratusan ribu kasus dugaan "demam" yang dilaporkan setiap hari.

Dalam siaran di televisi pemerintah, tampak tim yang mengenakan alat pelindung diri alias APD bekerja dan orang-orang bermasker membuka jendela, membersihkan meja dan mesin dan menyemprotkan disinfektan. Untuk mengobati COVID-19 dan gejalanya, media pemerintah telah mendorong pasien untuk menggunakan obat penghilang rasa sakit dan penurun demam seperti ibuprofen, amoksisilin serta antibiotik lainnya. Obat-obat tersebut sebenarnya tidak melawan virus, tetapi terkadang diresepkan untuk infeksi bakteri sekunder.



Selain itu, media Korut juga merekomendasikan berkumur dengan air garam, serta minum teh lonicera japonica atau teh daun willow tiga kali sehari.

"Saya awalnya takut dengan COVID-19, tetapi setelah mengikuti saran dokter dan mendapatkan perawatan yang tepat, ternyata bukan masalah besar," ujar seorang warga Pyongyang yang mengaku telah dibantu dengan teh jahe dan ventilasi kamar.

Sementara itu, Kim Jong Un selaku pemimpin tertinggi Korut mengatakan bahwa cadangan obat-obatan tidak mencapai warga. Ia pun memerintahkan korps medis tentara untuk membantu menstabilkan pasokan di Pyongyang, di mana wabah tampaknya terpusat.

Menurut kantor berita Korut, KCNA, penghitungan kumulatif dari yang dilanda demam mencapai 1.213.550, dengan 50 kematian. Tidak disebutkan berapa banyak orang yang diduga terinfeksi COVID-19 yang telah dites positif.

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengirimkan beberapa peralatan kesehatan dan persediaan lainnya ke Korut, tetapi belum mengatakan obat apa yang dikirimnya. Sedangkan negara tetangga Korut seperti Tiongkok dan Korea Selatan telah menawarkan untuk mengirim bantuan jika Pyongyang memintanya.

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts