Marak Kasus Hepatitis Akut Misterius, Fasilitas Kesehatan Pertama Untuk Akses Deteksi Dini Sedikit
Nasional

WHO telah menetapkan kasus hepatitis akut misterius pada anak sebagai kejadian luar biasa (KLB). Sementara itu, akses untuk mendeteksi dini penyakit tersebut di Indonesia dinilai lemah.

WowKeren - Kasus hepatitis akut misterius belakangan ini tengah menjadi sorotan dunia. Pasalnya penyakit yang kebanyakan menyerang anak-anak ini juga bisa menyebabkan kematian.

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri juga telah menetapkan kasus hepatitis akut misterius pada anak sebagai kejadian luar biasa atau KLB. Sementara itu, epidemiolog menilai bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama yang mampu menyediakan akses deteksi dini di Indonesia masih sangat sedikit.

Adapun dugaan kasus hepatitis akut misterius pada anak di Indonesia hingga saat ini mencapai 14 kasus pada 17 Mei 2022. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat dari 14 kasus tersebut, satu di antranya berstatus probable atau diduga kuat terinfeksi, sementara 13 kasus lainnya masih pending classification atau gejala sama tapi belum ada hasil pemeriksaan.

Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril menuturkan bahwa perubahan jumlah kasus dari hari sebelumnya yakni pada 15 atau 16 Mei 2022, ada pengurangan kasus di probable. "Ternyata setelah dilakukan pemeriksaan terakhir, dia sepsis bakteri, sehingga dia kasusnya discarded," ujar Syahril dalam konferensi pers Kemenkes, Kamis (19/5).


Di sisi lain, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane mengatakan bahwa saat ini fasilitas untuk melakukan deteksi di faskes tingkat pertama belum berjalan. Menurutnya, hal ini menyebabkan potensi pasien baru akan mendapatkan layanan kesehatan setelah mengalami kasus berat.

Masdalina menyebut permasalahannya di puskesmas-puskesmas dan dokter mandiri, di mana saat ini tidak memiliki fasilitas yang memadai. Misalnya untuk cek SGOT dan SGPT, atau misalnya tes hepatitis dari A sampai E.

"Sejauh ini mungkin hanya di Jakarta, yang sudah bisa, tapi di luar itu belum sepenuhnya bisa," beber Masdalina kepada DW Indonesia, dilihat pada Jumat (20/5).

Sementara itu, Kemenkes disebut telah menerbitkan tata laksana hepatitis akut misterius pada anak yang belum diketahui penyebabnya di fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah dengan menunjuk laboratorium nasional di Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) untuk menerima seluruh rujukan sampel pasien yang diduga hepatitis.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat deteksi dini dengan melakukan penyelidikan epidemiologi. Hal ini dilakukan melalui analisis patogen menggunakan teknologi Whole Genome Sequencing (WGS).

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait