Kasus COVID-19 di RI Kembali Naik, Pemerintah Diminta Segera Kaji PTM Tahun Ajaran Baru 2022/2023
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Kasus COVID-19 di Indonesia belakangan ini kembali mengalami tren kenaikan. Hal ini lantas memicu kekhawatiran lantaran juga bersamaan dengan ajaran baru tahun 2022/2023.

WowKeren - Angka kasus COVID-19 di Indonesia belakangan ini kembali mengalami tren kenaikan. Bahkan kasus COVID-19 harian tembus di angka 1.000.

Tren kenaikan COVID-19 yang kembali terjadi di Indonesia itu lantas membuat Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriawan Salim meminta pemerintah untuk segera mengkaji penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada tahun ajaran baru 2022/2023 yang akan dimulai pada Juli 2022 mendatang.

Satriawan pun mengatakan bahwa ada tiga hal yang memicu kekhawatiran pihaknya terkait pelaksanaan PTM. Pertama adalah kenaikan kasus COVID-19 yang telah membuat angka positivity rate melebihi standar Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sebagaimana diketahui, ambang batas aman WHO adalah 5 persen.

Kemudian, mulai merebaknya virus Corona subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Tanah Air. Adapun subvarian ini diketahui pula lebih cepat menular dibanding subvarian pendahulunya.

Ketiga, kata Satriawan, munculnya sejumlah kasus Hepatitis akut pada anak-anak. Terlebih lagi penyebab dan cara penularannya sampai sekarang masih misterius.


Dengan adanya tiga fenomena tersebut, maka menurut Satriawan seharusnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Agama, dan pemerintah daerah sudah mulai mengkaji penerapan PTM pada Juli.

Di samping itu, Satriawan menuturkan bahwa P2G mendorong agar pembelajaran dilaksanakan secara hybrid dengan komposisi 50 persen tatap muka, dan 50 persen daring. Hal ini perlu dilakukan apabila positivity rate masih di atas 5 persen pada Juli.

"Sekali lagi, kalau positivity rate sudah di atas 5 persen, maka PTM 100 persen perlu ditinjau ulang," tutur Satriawan kepada Republika, Minggu (19/6). Sebagai informasi, dengan angka kasus harian COVID-19 mencapai seribu, positivity rate menjadi 5,8 persen.

Sementara itu, Satriawan menerangkan apabila positivity rate sudah berada di bawah 5 persen, maka P2G meminta pelaksanaan PTM tahun ajaran baru diawasi secara ketat, sebab pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) belakangan ini mulai diabaikan di banyak sekolah. Hal ini berdasarkan laporan dari anggota P2G di daerah-daerah.

"Sekolah-sekolah itu tidak lagi patuh 3M dan 5M, yang tadinya wajib cek suhu tubuh, sekarang sudah mulai kendor, bahkan tidak ada," beber Satriawan. "Penggunaan masker juga sudah tidak disiplin."

(wk/tiar)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait