Krisis Berdarah Myanmar: Junta Sebut Dialog dengan Aung San Suu Kyi Bukan Hal yang Mustahil
Instagram/aungsansuukyi9
Dunia

Seorang juru bicara junta mengatakan bahwa dialog dengan Aung San Suu Kyi untuk mengakhiri krisis bukan hal yang mustahil, menyebut tidak ada yang mustahil dalam politik.

WowKeren - Krisis berdarah yang berlarut-larut di Myanmar masih menjadi sorotan. Kekinian, pihak junta Myanmar memberikan sinyal bahwa mereka terbuka untuk melakukan dialog dengan pemimpin yang digulingkan di negara itu, Aung San Suu Kyi.

Seorang juru bicara junta mengatakan kepada AFP bahwa dialog antara junta dan Suu Kyi untuk mengakhiri krisis bukan hal yang mustahil. "Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik," kata juru bicara junta Zaw Min Tun.

Sebagaimana diketahui, Myanmar telah berada dalam kekacauan sejak terjadinya kudeta, dengan pertempuran baru dengan kelompok pemberontak etnis, puluhan "Angkatan Pertahanan Rakyat" bermunculan untuk melawan junta dan ekonomi yang hancur. Suu Kyi sendiri hampir tidak dapat berkomunikasi dengan militer.

Pemimpin berusia 77 tahun tersebut juga baru-baru ini dipindahkan dari tahanan rumah ke sel isolasi. Di lain sisi, Suu Kyi juga menghadapi beberapa persidangan yang bisa membuatnya dijatuhi hukuman lebih dari 150 tahun penjara.


"Kami tidak bisa mengatakan bahwa (negosiasi dengan Suu Kyi) tidak mungkin," lanjut juru bicara tersebut. "Beberapa negara telah mendesak pembukaan dialog dengannya."

Upaya diplomatik yang dipimpin oleh Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara sejauh ini gagal menghentikan pertumpahan darah. Meski blok tersebut telah menyetujui konsensus lima poin dan menyerukan penghentian kekerasan, namun junta pada akhirnya mengabaikan itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat hampir 700.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak kudeta terjadi. Badan tersebut juga sebelumnya telah memperingatkan kekhawatiran soal hilangnya generasi anak-anak di negara tersebut.

Banyak anak-anak di sana yang terjebak di tengah baku tembak tindakan keras militer terhadap lawan. Mereka juga menjadi sasaran kejahatan perang. Tom Andrews selaku Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di Myanmar mengatakan militer telah membunuh sedikitnya 142 anak dan secara sewenang-wenang menahan lebih dari 1.400. Media lokal melaporkan pembunuhan dan pembakaran oleh pasukan junta terus berlangsung saat mereka berjuang untuk menghancurkan oposisi terhadap kudeta.

(wk/zodi)


You can share this post!