Menko Perekonomian Beber Potensi Indonesia Masuk ke Jurang Resesi, Besar?
Instagram/airlanggahartarto_offici
Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan mengenai kondisi Indonesia di tengah kondisi ketidakpastian global saat ini. Dalam hal ini juga terkait dengan potensi resensi Indonesia.

WowKeren - Negara di dunia saat ini tengah dihadapkan dengan ketidakpastian global. Tak sedikit negara yang mengalami krisis. Bahkan ada juga negara yang mengalami resesi tinggi seperti yang menimpa Sri Lanka.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa potensi Indonesia untuk masuk ke jurang resesi ekonomi terbilang kecil dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya, yakni hanya berkisar 3 persen dibandingkan Sri Lanka yang mencapai 85 persen.

Hal itu disampaikan Airlangga berdasarkan dari hasil survei Ekonom Bloomberg terkait proyeksi probalilitas resesi yang dipublikasikan pada 6 Juli 2022 lalu. "Ekonomi Indonesia diproyeksikan masih menguat dan resesi Indonesia sangat kecil dibandingkan negara lain," ujar Airlangga dalam webinar Bisnis Indonesia di Jakarta, Selasa (2/8).

Lebih lanjut, Airlangga menerangkan bahwa berdasarkan leading indicator CEIC yang meliputi keuangan moneter, pasar tenaga kerja, dan industri, menetapkan bahwa perekonomian Tanah Air diperkirakan masih menguat. Ia kemudian mengungkapkan per 22 Juni 2022, leading indicator menempatkan ekonomi Indonesia masih berada di atas tren jangka panjang (>100).


Sementara berdasarkan capaian tersebut, kata Airlangga, ekonomi Indonesia dan India berpotensi terus mengalami penguatan. Sedangkan untuk ekonomi negara lainnya seperti Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan sejumlah negara Eropa lainnya berpotensi besar akan mengalami perlambatan akibat kenaikan inflasi dan lonjakan harga komodutas energi yang memukul kinerja industri.

Menurut Airlangga, ekonomi AS sudah dua kali menunjukkan negatif. Sehingga dengan begitu secara teknikal sudah masuk ke dalam resesi menuju stagflasi.

Airlangga kemudian menambahkan bahwa masih kuatnya perekonomian di Indonesia itu juga dapat dilihat dari peningkatan demand/konsumsi yang terus menunjukkan peningkatan seiring dengan membaiknya indikator utama seperti konsumsi, investasi, dan sektor eksternal. Selanjutnya adalah peningkatan harga komoditas global seperti kelapa sawit dan batu bara yang juga mendorong penerimaan negara.

Di samping itu, Airlangga menuturkan bahwa cadangan devisa Indonesia juga cukup memadai untuk mencapai USD136,4 miliar hingga akhir Juni 2022. Menurutnya, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan posisi Indonesia pada akhir Mei 2022 lalu, yakni sebesar USD135,6 miliar.

Airlangga menyebut bahwa posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait