Kisah Nyata, Cerita Asli Diskriminasi Gender di 'Extraordinary Attorney Woo' Bikin Nyesek
Instagram/channel.ena.d
TV
Drama Extraordinary Attorney Woo

Cerita diskriminasi gender yang ada di episode 12 drama 'Extraordinary Attorney Woo' ternyata didasarkan pada kisah nyata. Lantas, seperti apa cerita aslinya?

WowKeren - Episode 12 "Extraordinary Attorney Woo" menarik banyak perhatian karena mengangkat isu kesetaraan gender. Cerita dalam episode ini rupanya diambil dari kisah nyata.

Episode ini berfokus pada gugatan dua karyawan wanita dari Mir Life. Perusahaan tersebut melakukan restrukturisasi dengan meminta karyawan istri mengundurkan diri. Jika tidak mau, suami mereka akan dipecat dari perusahaan tersebut.

Dua karyawan yang dipecat mempermasalahkan hal ini dan mengajukan gugatan pada perusahaan. Mereka diwakili oleh seorang pengacara wanita Ryu Jae Sook (Lee Bong Ryun) yang cukup eksentrik. Episode ini ternyata rekonstruksi dari sebuah kasus nyata "pemecatan pasangan in-house NACF" yang terjadi pada tahun 1999.

Kisah Nyata, Cerita Asli Isu Kesetaraan Gender di \'Extraordinary Attorney Woo\' Bikin Nyesek

Source: ENA

Setelah krisis IMF terjadi, Federasi Koperasi Pertanian Nasional (National Agricultural Cooperative Federation/NACF) mempensiunkan satu dari setiap 762 pasangan in-house. Selama proses ini, sebanyak 688 orang (91 persen dari total pegawai yang di-PHK) adalah karyawan perempuan.


Dua karyawan perempuan yang bekerja sebagai pegawai kontrak yang merasa tidak adil atas situasi ini akhirnya mengajukan gugatan. Mereka didukung oleh sejumlah Organisasi Wanita, termasuk Korean WomenLink. Namun akhir dari gugatan itu tidak sesuai yang mereka harapkan. Sebab pada tahun 2003, Mahkamah Agung memutuskan bahwa itu "bukan pemecatan yang tidak adil."

Kedua wanita tersebut juga memiliki pengacara seperti Ryu Jae Sook di "Extraordinary Attorney Woo". Dia adalah pengacara Kim Jin yang selalu berdiri di belakang mereka untuk memperjuangkan kesetaraan gender.

Pengacara Kim Jin menganggap kasus itu sebagai "hal yang memilukan". Dalam wawancaranya dengan Money Today, dia berkata, "Aku kehilangan kepercayaan diri sebagai pengacara setelah diputuskan kalah dalam kasus ini. Tapi dalam retrospeksi, aku pikir aku dapat membangun logika yang diperlukan untuk perluasan hak-hak perempuan."

Dia melanjutkan, "Aku didorong oleh mereka yang terlibat dalam kasus ini, yang pasti lebih menderita daripada diriku, seorang pengacara baru pada saat itu. Pengacara muda yang bekerja denganku pasti gugup, tapi mereka selalu berteriak 'Semangat' tanpa menunjukkan tanda-tanda kecemasan."

"Para wanita yang dipecat setelah insiden itu mengatakan bahwa mereka merasa lega setelah mencoba (memperjuangkan) kasus tersebut. Ketika aku menerima ucapan terima kasih mereka, 'Sayang sekali kita tidak dapat sering bertemu dengan pengacara kami lagi', aku benar-benar ingin merangkak ke dalam lubang dan mati," ungkapnya.

"Setelah pemecatan, mereka bekerja sebagai pekerja kontrak dan menerima setengah gaji di cabang yang sama atau beralih ke posisi kontrak di bank lain. Tapi mereka selalu berani dan melakukan yang terbaik daripada menyesal. Itu menunjukkan kebanggaan bahwa bank tidak akan mampu melakukan hal-hal seperti itu di masa depan," pungkas pengacara Kim Jin.

(wk/eval)


You can share this post!

Related Posts