Puluhan Ribu Turis Terjebak di Destinasi Wisata Populer Tiongkok Akibat Penguncian COVID-19
Dunia
Pandemi Virus Corona

Sarana transportasi di Sanya ditangguhkan, dengan para wisatawan yang terdampak oleh pembatalan penerbangan, dapat memesan kamar hotel dengan setengah harga.

WowKeren - Pusat wisata utama di Hainan, Sanya, telah memberlakukan lockdown pada Sabtu (6/8) ketika mencatat lonjakan kasus COVID-19. Jaringan transportasi juga dibatasi untuk membendung wabah, ketika ada sekitar 80.000 wisatawan yang sedang menikmati liburan di tempat itu.

Alhasil, pemberlakuan penguncian itu menyebabkan banyak turis terjebak di dalam hotel sampai pekan depan. Pulau di Laut Tiongkok Selatan itu mencatat hanya dua kasus positif COVID-19 yang bergejala sepanjang tahun lalu. Namun, jumlah kasusnya tiba-tiba melonjak.

Salah satu pengusaha, Yang Jing, terpaksa harus menginap di hotel bintang empat dengan biaya sendiri. Jing yang merupakan seorang pengusaha, bersama keluarganya terpaksa harus makan mi pot setiap hari untuk menghemat biaya pengeluaran.

Dia berasal dari provinsi Jiangxi di Tiongkok selatan, dan telah merencanakan liburan musim panas tahun ini di pulau selatan tropis Hainan karena rekam jejak COVID-19 nya yang sempurna. "Ini adalah hari libur terburuk dalam hidup saya," ujarnya kepada Reuters.


Selama rentang waktu 1 hingga 7 Agustus, Sanya telah melaporkan 689 kasus bergejala dan 282 kasus tanpa gejala. Selama periode waktu yang sama, kota-kota di sekitarnya di provinsi itu telah melaporkan lebih dari selusin kasus, seperti Danzhou, Dongfang, Lingshui, dan Lingao.

CCTV melaporkan jika penjualan tiket kereta api dari Sanya ditangguhkan pada Sabtu (6/8). Sedangkan menurut penyedia data Variflight, lebih dari 80 persen penerbangan ke dan dari Sanya telah dibatalkan.

Selama dua setengah tahun terakhir, Hainan telah ditutup untuk turis asing sejak Tiongkok berhenti mengeluarkan visa turis dan menerapkan aturan karantina yang ketat sebagai tanggapan terhadap pandemi COVID-19. Bagi wisatawan yang terdampak pembatalan penerbangan, mereka dapat memesan kamar hotel dengan setengah harga, kata pemerintah Sanya.

Namun menurut keluhan orang-orang di WeChat, hotel tempat mereka menginap masih belum menerapkan aturan seperti itu sehingga membuat mereka tetap harus membayar sesuai harga aslinya. Seorang turis mengeluh bahwa persediaan makanan di hotelnya juga menipis. "Kami hanya berharap itu tidak akan berubah menjadi seperti Shanghai," ujarnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts