Pro Kontra Warga Soal Wacana Kenaikan BBM Bersubsidi
Nasional
Harga BBM Naik

Wacana kenaikan harga BBM bersubsidi bukan tak mungkin terjadi di Indonesia. Lantas bagaimana tanggapan warga masyarakat mengenai wacana kenaikan harga BBM bersubsidi?

WowKeren - Persoalan kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) kini tengah diantisipasi berbagai pihak. Termasuk kenaikan harga BBM bersubsidi, Pertalite dan solar. Apalagi Presiden Joko Widodo sebelumnya juga mengungkap bahwa harga keekonomian Pertalite dan Solar saat ini sangat jauh dari harga riil yang dijual Pertamina.

"Negara lain sudah jauh sekali. Kenapa harga kita masih seperti ini? Karena kita tahan terus, tapi subsidi semakin besar. Sampai kapan kita begini? Ini PR kita semua. Menahan harga itu berat," ujar Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

Pertamina diketahui masih menahan harga Pertalite di Rp 7.650 per liter, padahal, harga keekonomiannya sudah berada di angka Rp 17.100 per liter. Melansir CNNIndonesia.com, sejumlah ekonom telah memperkirakan bahwa jika harga Pertalite naik hingga Rp 10 ribu per liter, hal itu akan mengancam inflasi ke level 6,5 persen.

Kenaikan harga Pertlite tentu bakal membawa dampak nyata bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Karena itu, wacana kenaikan harga Pertalite dan jenis BBM bersubsidi lain pun ramai mendapat tanggapan masyarakat. Melansir CNNIndonesia.com, berikut sejumlah tanggapan mengenai wacana kenaikan harga BBM bersubsidi.


"Tidak setuju lah. Saya kan kerjaan ngojek, keliling tiap hari antar penumpang. Saya pakai Pertalite karena jauh lebih murah dari Pertamax," ungkap Hafid, tukang ojek online berusia 28 tahun.

"Jadi, kalau dinaikkan ya pasti berat. Pasti uang buat beli bensin jadi tambah besar," keluh Hamid.

"Kalau jujur ya nggak setuju, tapi kalau harus ya nggak apa-apa juga. Paling nanti saya pindah ke Pertamax karena kalau dia (Pertalite) naik jadi Rp10 ribu, beda sedikit sama Pertamax. Mending Pertamax saja sekalian," pungkas Fitri (27).

Sementara sikap setuju disampaikan Yayat (32). Jika harga Pertalite dinaikkan menjadi Rp 10 ribu, Yayat mengaku bisa punya alasan kuat untuk ganti pakai Pertamax karena perbandingan harga yang tak jauh.

"Setuju sih. Saya memang sudah dari lama mau pindah ke Pertamax. Tapi belum jadi-jadi karena sekarang harga-harga naik kan. Belanja bulanan istri juga bertambah. Jadi masih ditunda. Kalau nanti (pertalite) naik, bedanya ke Pertamax jadi sedikit, ya sekalian pindah saja. Mungkin memang sudah waktu yang tepat (untuk pindah)," beber Yayat.

(wk/Indr)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait