Luhut menjelaskan bahwa sejatinya beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia sudah terlalu besar untuk menanggung biaya subsidi bahan bakar minyak (BBM).
- Bertilia Puteri
- Jumat, 19 Agustus 2022 - 18:52 WIB
WowKeren - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan sinyal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Menurut Luhut, Presiden Joko Widodo kemungkinan akan mengumumkan keputusan soal harga BBM pekan depan.
"Nanti mungkin minggu depan Presiden akan mengumumkan terkait apa dan bagaimana mengenai harga BBM ini," ungkap Luhut dalam Kuliah Umum Menko Marves di Universitas Hasanudin pada Jumat (19/8). "Jadi presiden sudah mengindikasikan tidak mungkin kita pertahankan terus demikian, karena harga BBM kita jauh lebih murah di kawasan asia ini, dan itu beban terlalu besar kepada APBN kita."
Luhut menjelaskan bahwa sejatinya beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia sudah terlalu besar untuk menanggung biaya subsidi BBM. Subsidi untuk energi pada APBN 2022 mencapai Rp 502,4 triliun yang digunakan untuk BBM, LPG, hingga listrik.
"Kita ini harga BBM paling murah sekawasan ini. Kita jauh lebih murah dari yang lain," terang Luhut. "Itu (subsidi BBM) terlalu besar kepada APBN kita."
Menurutnya, pemerintah hendak menurunkan beban subsidi jauh di bawah Rp 502 triliun seperti sekarang. Sejumlah langkah pun disiapkan untuk mewujudkan rencana tersebut.
"Karena kemarin subsidi kita Rp 502 triliun, kita harap bisa ditekan ke bawah. Misalnya dengan pengurangan motor dan mobil combustion diganti listrik, kemudian B40," paparnya.
Di sisi lain, pengamat memperkirakan harga ideal bagi BBM subsidi adalah Rp 10.000 per liter untuk Pertalite dan Rp 8.500 per liter untuk Solar. Melansir Kumparan, Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menilai kenaikan tersebut masih cukup rasional dan tak terlalu membebani masyarakat.
Terpisah, Direktur Center of Law and Economic Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa kenaikan harga Pertalite menjadi Rp 10.000 per liter bisa mempengaruhi laju inflasi nasional. "Jika kenaikan harga Pertalite dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter, diperkirakan inflasi tahun ini tembus 6-6,5 persen year on year. Dikhawatirkan menjadi inflasi yang tertinggi sejak September 2015," terang Bhima.
Wacana kenaikan harga BBM subsidi tersebut juga menuai beragam respons dari masyarakat. Simak komentar pro-kontra warga di sini.
(wk/Bert)