Drama 'Under The Queen's Umbrella' sukses membuktikan diri dengan popularitasnya meski diterpa kontroversi ketidakakurasian sejarah. Bahkan drama itu sukses menorehkan pencapaian baru.
- Amelia Nur Fatimah
- Senin, 31 Oktober 2022 - 10:50 WIB
WowKeren - "Under The Queen's Umbrella" jadi salah satu drama saeguk yang paling mencuri perhatian saat ini. Meski berulang kali menerima kritik dan protes terkait masalah akurasi sejarah, drama tersebut nyatanya bertahan dengan rating yang terus melonjak naik.
Pada tanggal 30 Oktober, drama yang dibintangi Kim Hye Soo itu sukses menembus rating dua digit dengan episode keenamnya. Menurut Nielsen Korea, siaran terbaru "The Queen's Umbrella" mencetak rating nasional rata-rata 11,3 persen, menandai rekor tertinggi baru untuk acara tersebut.
Sementara itu diketahui bahwa drama "Under The Queen's Umbrella" sudah menimbulkan kontroversi sejak episode dua ditayangkan pada Minggu (16/10). Netizen menyoroti sejumlah ketidakakurasian sejarah dalam drama tersebut.
Dalam episode tersebut, saat menjelaskan istilah bahasa Mandarin dalam subtitle, daripada menggunakan karakter Mandarin Tradisional, acara tersebut menggunakan karakter Mandarin yang Disederhanakan. Saat kontroversi berkembang, acara tersebut telah mengedit episode agar lebih akurat secara historis.
Sumber kemarahan lain dari penonton adalah fakta bahwa di kamar Raja, ada plakat bertuliskan TaeHwaJun dalam bahasa Mandarin. Penonton mempermasalahkan hal ini ketika terungkap bahwa ini adalah nama ruangan Raja di dalam Kota Terlarang Tiongkok dan tidak pernah digunakan di Korea.
Kritis tak hanya datang dari kalangan netizen, 2 sejarawan Korea Selatan juga ikut menyampaikan kekecewaan mereka. Pada tanggal 27 Oktober, pakar sejarawan Jun Woo Yong dan Kim Jae Won ikut melontarkan kritik terkait kontroversi akurasi sejarah di drama "Under The Queen's Umbrella".
Jun Woo Young muncul di jaringan Korea CBS 's No Cut News pada 27 Oktober. Dalam tayangan itu, Jun Woo Young menyatakan selama wawancara bahwa drama itu lebih fantasi daripada sejarah. Cendekiawan itu kemudian menuduh bahwa drama tersebut tampaknya terinspirasi oleh sejarah Tiongkok.
Sejarawan Kim Jae Won juga setuju soal adanya ketidakakuratan dalam drama tersebut. Kim Jae Won selanjutnya menyatakan bahwa ketidakakuratan tersebut tidak menghormati sejarah Korea.
(wk/amel)