Meisya Siregar Ceritakan Perjuangan Anak Terkena Penyakit Autoimun
TMDB (Merged)/themoviedb.org
Selebriti

Meisya Siregar berbagi pengalaman sulit saat anaknya didiagnosis penyakit autoimun langka.

WowKeren - Artis Meisya Siregar baru-baru ini membagikan kabar duka mengenai kondisi kesehatan putra ketiganya, Muhammad Bambang Arr Ray Bach, yang terdiagnosis penyakit autoimun langka di usia 9 tahun. Dalam unggahan di media sosial, Meisya mengungkapkan kesedihan dan ketidakpercayaannya saat mengetahui bahwa Bambang, yang selama ini dikenal sebagai anak aktif dan jarang sakit, mengalami penurunan kondisi kesehatan yang drastis.

"Selalu ada hikmah dari setiap ketentuan Allah. Mungkin kami terlalu takabur, menganggap anak kita sehat," tulis Meisya pada akun Instagramnya, menjelaskan perasaannya terkait situasi yang tak terduga ini.

Kondisi Bambang awalnya tampak seperti gejala umum, yakni batuk dan pilek. Namun, gejala tersebut berkembang menjadi lebih serius dengan munculnya lendir berlebih yang keluar dari mata. Setelah pemeriksaan, Bambang didiagnosis dengan sinusitis kronis dan menjalani pengobatan selama lima hari. Meski sempat ada perbaikan, gejala lain yang lebih serius kemudian muncul.

Beberapa hari setelah pengobatan, Bambang mengalami memar di tubuhnya tanpa penyebab yang jelas. Memar tersebut semakin banyak meskipun tidak disertai demam atau perubahan perilaku. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan berita mengejutkan: jumlah trombosit Bambang hanya 3.000, jauh di bawah batas normal.

Bambang kemudian didiagnosis mengidap Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP), sebuah kelainan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang trombosit yang berperan penting dalam proses pembekuan darah. Meisya menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena sistem imun yang 'keliru mengenali' bagian tubuh sendiri sebagai ancaman.


Dengan kondisi trombosit yang sangat rendah, Bambang harus segera menjalani terapi medis Intravenous Immunoglobulin (IVIG). Terapi ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut dengan total sembilan botol infus. IVIG mengandung antibodi dari plasma darah donor sehat dan bertujuan untuk menstabilkan sistem imun. Namun, terapi ini juga memiliki risiko efek samping, seperti pembengkakan, perubahan bentuk wajah (moon face), dan reaksi alergi.

Di tengah perjuangan ini, Meisya dan keluarganya memberikan dukungan penuh kepada Bambang. Ia menyatakan bahwa sang anak mampu menjalani seluruh rangkaian terapi dengan baik. Hasilnya pun menggembirakan; trombosit Bambang meningkat drastis dari 3.000 menjadi 182.000, mendekati angka normal.

"Alhamdulillah, Bambang bisa menjalani terapi ini dengan sangat mudah dan lancar berkat doa dari orang-orang tersayang," ujar Meisya, menyampaikan rasa syukurnya atas kemajuan kesehatan putranya.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Meisya dan keluarganya. Ia berharap kondisi yang dialami Bambang bersifat sementara dan tidak akan berlanjut hingga jangka panjang. Meskipun demikian, Bambang masih harus menjalani pengobatan lanjutan untuk memastikan kadar trombositnya tetap stabil.

"Doakan semoga ini hanya akut dan tidak dibawa seumur hidupnya," tutup Meisya, berharap agar putranya dapat segera pulih sepenuhnya.

(wk/timw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait