Kebelet nikah boleh asal jangan lakukan hanya karena alasan-alasan ini ya.
- Tim WowKeren
- Jumat, 16 Desember 2016 - 14:55 WIB
WowKeren - Desember merupakan salah satu bulan kamu menerima banyak undangan. Entah dari teman SD, SMP, SMA, kuliah hingga kerja. Saking banyaknya, bisa saja dalam satu hari kamu mendatangi 3 acara. Di acara-acara seperti ini untuk kamu yang belum menikah pasti familiar dengan pertanyaan, "Kamu kapan nikah?"
Bombadir pertanyaan ini yang menyebabkan kamu sakit kepala. Belum lagi orangtua dan keluarga yang menanyakan calon mantu atau kekasih yang nggak kunjung muncul. Pernikahan serasa menjadi tujuan hidup yang memiliki deadline.
Karena tekanan itu, kamu gegabah dan menerima siapapun yang meminang. Kamu nggak pernah menanyakan dalam hati, apa benar kamu siap dengan pernikahan itu? Berikut alasan-alasan yang sebaiknya kamu hindari ketika memutuskan untuk menikah:
Dikejar Usia
Dikejar usia kerap menjadi alasan pokoknya menikah. Orangtua di rumah rasanya setiap hari menanyakan, "mana calonmu?" dan "kapan menikah?" Belum lagi tatapan tetangga ketika teman priamu mengantar pulang. Mata mereka seakan bertanya, "itukah jodohmu?" Hal-hal seperti ini sebenarnya secara nggak langsung menjadi tekanan untuk kamu.
Untuk punya prinsip woles, dihujani pertanyaan-pertanyaan seperti nggak akan berdampak. Sebab dia mampu membuat pertanyaan itu masuk telinga kanan dan keluar di kiri. Namun untuk yang nggak tahan, bisa saja menerima siapapun yang berminat karena saking pasrahnya. Yang perlu kamu pahami, pernikahan bukan untuk kamu kejar, bukan?

Takut Jones Sendirian
Dalam sebuah geng, satu persatu anggota melepas lajang. Hal ini membuatmu takut sendirian. Timbul banyak pertanyaan dalam kepalamu, bagaimana bila kamu punya masalah, bersandar dimanakah kamu, kalau ingin nongkrong sedang yang lain sibuk dengan keluarganya dan lainnya.
Karena takut sendirian membuat kamu ngebut mencari pendamping dan menikah. Proses mengenal satu sama lain nggak kamu pikirkan. Pokoknya hajar bleh! Ketakutan akan kesendirian membuat kamu buta dan nggak memikirkan diri sendiri. Bukankah kalau kamu sendiri lebih bisa memahami diri dan bisa menjadi lebih baik?

Balas Dendam pada Mantan
Kalau merasa nyesek waktu datang ke acara pernikahan mantan, hati-hati karena kamu bisa saja mulai berambisi untuk membalas dendam. Biasanya orang ini adalah jenis yang hubungannya belum selesai dengan mantan. Namun sayangnya sudah ditinggal nikah dengan orang lain.
Jangan sampai kamu menjadikan pernikahan sebagai sarana pembuktian pada mantan. Pembuktian pada mantan kalau kamu sekarang sudah bisa hidup tanpanya. Apalagi mantanmu sudah mendahului menikah. Dia seperti mencuri start memulai hidup baru. Tapi hidup bukan seperti kompetisi lari.

Mengejar Materi
Di zaman seperti sekarang ini, siapa orang yang nggak tergiur dengan harta? Harapan untuk hidup di dalam pernikahan yang mapan pasti akan menggiurkan semua orang. Hati-hati karena anggapan setelah menikah kehidupan ekonomi akan terjamin. Nggak semua itu benar dan tepat.
Pernikahan yang didasari dengan harta sangatlah rapuh. Terutama jika suatu saat nggak ada lagi kekayaan. Kamu dan suami hanya akan buta dengan kekayaan dan materi. Pondasi yang sejak awal nggak kuat bisa diprediksi bahwa pernikahan itu pun nggak bakal selamanya.

Kasihan
Alasan mengasihani pasangan yang sudah banyak berkorban seringkali membuat hatimu luluh. Tanpa berpikir panjang dia melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius. Karena merasa kasihan, kamu merasa dia sudah banyak berkorban buatmu. Padahal rasa kasihan ini bisa saja hilang ketika kamu mulai menghadapi kenyataan rumah tangga.
Lebih lagi kalau orang yang tadinya banyak berkorban ini berubah menjadi menyebalkan dan menuntut balik pengorbanan yang telah diberikan. Iya kalau kamu memang bisa mencintai dia bila nggak. Kamu akan merasa bersalah pada dirinya karena nggak bisa memberikan balasan.

Nggak Betah di Rumah
Karena nggak tahan melihat dan mendengar pertengkaran yang selalu terjadi di rumah, dia berusaha untuk secepat mungkin keluar rumah. Padahal setelah berumah tangga pun kamu juga pasti akan menemui masalah. Malah orang yang kamu hadapi adalah orang yang kebiasaannya berbeda denganmu.
Kalau alasan ini menjadi dasar untuk menikah maka kamu nggak akan benar-benar bisa keluar dari setiap masalah. Karena kamu selalu berusaha lari dari masalah. Jika belum menyelesaikan masalah di rumah, jangan harap kamu bisa membina hubungan keluarga yang baik dengan suamimu.

Membuktikan Kenormalan
Orang ini biasanya adalah korban bully dari teman-temannya yang menuduhnya suka sesama jenis. Padahal sebenarnya kalau kamu nggak ingin diejek seperti itu, cukup jangan berperilaku seperti apa yang mereka katakan. Keluarlah dari lingkungan yang suka membully kamu. Selebihnya jangan sampai perkataan orang-orang itu menjadi kenyataan karena kamu menerima ejekan mereka.
Pria dengan karakter yang kalem biasanya dekat dengan sebutan homo atau wanita yang nggak kunjung menikah sering dianggap lesbi. Pelabelan yang dilakukan masyarakat sekitarmu ini kadang menjadi tekanan. Meski biasanya menjadi "buah bibir" namun buatmu bisa saja sangat mengganggu. Karena hal ini kamu ingin membuktikan ke semua orang bahwa kamu menikah. Tapi apakah hal itu penting bila kamu menanggapi omongan orang lain?

Sebenarnya, menikah adalah sebuah kesiapan bukan perlombaan. Ketika kamu menikah hanya karena tuntutan, justru akan membuat pernikahanmu menjadi nggak bahagia. Karena di dalam hubungan pernikahan, dibutuhkan orang dan alasan yang tepat pula. Jika pernikahanmu diawali dengan alasan yang salah, bisa jadi pernikahan yang kamu idam-idamkan hanya sebagai pembuktian belaka.
(wk/)