Masyarakat New York Diminta Tak Panik Banyak Tupai Lakukan Splooting Saat Panas, Apa Itu?
Pixabay
SerbaSerbi

Ketika suhu mencapai 95F (35C) pekan ini di New York, departemen taman kota mendesak penduduk untuk tidak khawatir tentang tupai yang terlihat tengkurap di tanah.

WowKeren - Suhu panas tengah melanda sejumlah wilayah di permukaan bumi saat ini, termasuk New York. Suhu yang sangat panas di kota tersebut turut berdampak pada tingkah laku hewan mamalia.

Ketika suhu mencapai 95F (35C) pekan ini di New York, departemen taman kota mendesak penduduk untuk tidak khawatir tentang tupai yang terlihat tengkurap di tanah dengan kaki terentang. Departemen itu menjelaskan melalui unggahan di akun Twitter bahwa perilaku itu merupakan bentuk penyesuaian diri karena suhu yang panas.

"Jika Anda melihat tupai berbaring seperti ini, jangan khawatir, mereka baik-baik saja," tulis departemen itu sambil menyertakan pose tupai yang dimaksud. "Pada hari-hari yang panas, tupai tetap dingin dengan melakukan splooting (meregangkan) pada permukaan yang dingin untuk mengurangi panas tubuh. Kadang-kadang disebut sebagai pembuangan panas."

Photo-INFO

Twitter/NYCParks


Melansir The Guardian, Dan Blumstein, seorang profesor di departemen ekologi dan biologi evolusi di UCLA mengatakan bahwa aktivitas splooting dapat membantu tupai merasa lebih dingin. Tak hanya tupai, namun hal ini juga dilakukan oleh hewan mamalia lainnya seperti marmut. "Pada hari-hari panas mereka akan berbaring di bebatuan karena batu-batunya masih lebih dingin," katanya.

Namun Blumstein mengatakan dia tidak tahu istilah 'splooting'. Grant Barrett, seorang leksikografer dan co-host acara radio A Way With Words, menjelaskan bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa Doggo, suatu bentuk bahasa internet yang diilhami anjing yang telah tumbuh menjadi bahasanya sendiri.

Seperti tupai dan marmut, anjing juga melakukan splooting. "Anda perlu berhari-hari atau bahkan seminggu untuk membaca semua posting dan komentar di grup (yang berfokus pada doggo) ini untuk mencari tahu siapa yang pertama kali mengatakannya," kata Barrett.

Meski tidak bisa dipastikan dari mana asal mulanya istilah tersebut, Barrett menduga itu berasal dari Australia. "Jika Anda melihat grup Facebook untuk bahasa semacam ini, beberapa yang paling awal tampaknya berasal dari banyak orang Australia," lanjutnya.

Hewan melakukan perilaku tertentu untuk beradaptasi dengan suhu panas, tak terkecuali burung. "Mereka membuka mulut mereka dan sedikit membungkuk dengan lidah menjulur. Mereka tidak terlihat sangat bahagia. Terlihat jelas bahwa dunia yang lebih panas turut mengubah perilaku hewan," pungkas Blumstein.

(wk/zodi)

You can share this post!

Artikel Terkait