Berikut ini beberapa kebaikan orangtua yang kerap diberikan pada anak. Namun karena terlalu mendalam atau salah aplikasi, jadinya si anak malah jauh dari kondisi sukses.
- Tim WowKeren
- Jumat, 03 Februari 2017 - 13:52 WIB
WowKeren - Setiap orangtua menginginkan anak mendaparkan jalan hidup yang lebih baik dari dirinya. Ketakutan dalam hidupnya membuat para orangtua memberikan segala hal yang dianggapnya baik dan menjauhi yang buruk. Hal itu tentu saja untuk meminimalisir apapun yang buruk pada anak.
Namun nggak semua proses itu harus dihindari. Pernahkah kamu mendengar cerita tentang kupu-kupu yang berusaha keluar dari kepompong. Suatu ketika ada manusia yang kasian dan membantu kupu-kupu itu dengan cara memotong sayap yang masih lengket pada kepompong. Hasilnya kupu-kupu itu nggak bisa terbang dengan sempurna.
Sama seperti kupu-kupu tersebut, bisa disimpulkan bahwa setiap manusia memiliki proses hidup yang nggak ketebak setiap pribadinya. Oleh orangtuanya sekalipun. Jangan kaget bila orangtua yang terlalu baik malah membuat anaknya jauh dari kesuksesan. Berikut kebaikan orangtua yang malah terasa memanjakan si anak:
Takut Si Anak Hadapi Risiko
Kamu hidup di dunia yang penuh dengan bahaya di setiap tikungannya. Akibatnya, prinsip "keselamatan adalah yang utama" sering memaksamu takut kehilangan anak-anak. Jadi orangtua lakukan segalanya untuk melindungi anak-anak. Ini memang tugas sebagai orang tua tapi mereka sebenarnya justru mengisolasi dari perilaku sehat yaitu berani mengambil risiko dan itu memiliki efek yang merugikan.
Psikolog di Eropa telah menemukan bahwa jika seorang anak nggak pernah dibiarkan bermain di luar dan nggak pernah mengalami luka di lututnya, mereka akan memiliki fobia ketika menjadi orang dewasa. Anak-anak perlu jatuh beberapa kali agar tahu itu adalah sesuatu yang normal. Anak-anak remaja mungkin perlu putus dari pacarnya agar tahu bahwa kematangan emosional dalam hubungan sangat dibutuhkan. Jika orangtua menghilangkan risiko-risiko itu dari kehidupan anak-anak, mereka mungkin akan menjadi sosok jika nggak arogan berarti rendah diri.

Terlalu Cepat Beri Pertolongan pada Anak
Generasi anak muda sekarang nggak memiliki keterampilan bertahan hidup seperti anak-anak 30 tahun yang lalu. Itu karena para orang tua zaman sekarang terlalu memanjakan anak-anak mereka. Ketika terlalu cepat memberi pertolongan dan memanjakan anak-anak kita dengan "bantuan", orangtua sama saja telah mencabut keterampilan mengatasi kesulitan hidup dan memecahkan masalah secara mandiri dari mereka.
Pengasuhan bersifat jangka pendek dan butuh sosok penuh kepemimpinan untuk melengkapi anak-anak muda bekerja mandiri tanpa sedikit-sedikit minta bantuan orang tua. Cepat atau lambat jika sikap terlalu memanjakan ini terus diterapkan, anak-anak akan terbiasa memiliki pola pikir "jika saya gagal atau membuat kesalahan maka ada orang tua yang akan menyelamatkan saya". Cara tersebut sangat merugikan anak-anak ketika mereka dewasa. Itu akan mencegah anak-anak menjadi orang dewasa yang kompeten.

Mudah Sanjung Anak
Mentalitas mudah memberikan pujian pada anak-anak akan membuat mereka merasa istimewa. Tetapi menurut penelitian terbaru hal itu berpengaruh nggak baik pada anak-anak. Anak jadi punya pemikiran bahwa hanya ibu dan ayah satu-satunya yang berpikir mereka mengagumkan sementara orang lain nggak.
Akibatnya, saat dewasa, anak-anak mulai meragukan objektivitas orang tua mereka. Pujian tersebut terasa indah tapi nggak sesuai dengan kenyataan. Ketika terlalu mudah memuji dan mengabaikan perilaku buruk anak-anak, mereka akan terbiasa untuk berbuat curang, bersikap berlebihan dan suka berbohong. Mereka cenderung mencari cara mudah dalam menyelesaikan kesulitan. Mereka nggak siap untuk menghadapinya.

Semuanya Diukur dengan Hadiah
Anak-anak harus dibiasakan dengan perasaan kecewa. Katakan kepada mereka "nggak" atau "nggak sekarang" dan biarkan mereka berjuang untuk mendapatkan apa yang benar-benar dibutuhkan. Sebagai orang tua, mereka cenderung untuk memberikan apa saja yang diinginkan saat memberi penghargaan terutama jika jumlah anak lebih dari satu.
Ketika salah satu dari mereka sangat baik dalam melakukan sesuatu, orangtua merasa nggak adil jika hanya memuji yang satu itu dan nggak yang lain. Ini sikap yang nggak realistis dan kamu melewatkan peluang untuk mengatakan bahwa sukses itu tergantung pada usaha sendiri dan perbuatan baik. Jika hubungan didasarkan pada imbalan materi, anak-anak nggak akan memiliki motivasi intrinsik maupun cinta tanpa syarat kepada orang tua.

Nggak Berbagi Kesalahan di Masa Lalu
Anak remaja yang sehat selalu ingin mengepakkan sayap mereka dan mencoba sesuatu sendiri. Orangtua sebagai orang dewasa harus membiarkan mereka. Tetapi itu nggak berarti kamu nggak membantu mereka menavigasi kehidupan ini. Berbagi kesalahan masa lalu dengan mereka saat seusia mereka akan membantu mereka belajar untuk membuat pilihan yang baik.
Memberi wejangan adalah hal yang perlu diberikan pada anak. Namun jangan cenderung menggurui sebab anak-anak melihat secara nyata sebagai contoh. Jangan takut berbuat kesalahan di depan anak agar mereka paham bahwa orangtua mereka juga pernah salah.

Cerdas, Bakat dan Kebebasan Dianggap Tanda Kedewasaan
Kecerdasan sering digunakan sebagai pengukur kematangan anak. Akibatnya, orangtua menganggap anak yang cerdas berarti siap menghadapi dunia. Padahal nggak selalu seperti itu. Banyak atlit profesional dan bintang muda Hollywood yang memiliki bakat hebat tapi masih terjebak dalam skandal publik.
Hanya karena seorang anak memiliki bakat dalam hidupnya, jangan menganggap itu meliputi semua bidang. Nggak ada panduan kapan seorang anak harus diberikan kebebasan. Tetapi aturannya adalah dengan mengamati anak-anak lain yang seusia dengan anak. Jika melihat mereka melakukan sesuatu lebih dari anak seusia mereka, orangtua mungkin perlu menunda memberikan kebebasan kepada anak.

Perilaku Orangtua Nggak Sesuai dengan Nasihat pada Anak
Sebagai orang tua sudah selayaknya memberikan contoh yang baik kepada anak-anak. Perilaku harus sesuai dengan nasihat-nasihat yang diberikan kepada mereka. Hal ini akan menuntun mereka memiliki kehidupan yang berkarakter dan menjadi mandiri. Anak-anak akan menjadi sosok yang bisa dipegang kata-katanya atau bertanggung jawab pada tindakannya.
Orangtua dan keluarga kecil merupakan cerminan dan contoh bagi anak. Jangan berikan hal-hal yang nggak sesuai dengan contoh sebagai wejangan pada anak karena itu akan nggak mempan. Anak paham dengan keadaan sekitar dan sudah mampu menarik kesimpulan. Orangtua hanya sebagai pembimbing.

Kebaikan di atas merupakan poin-poin yang kerap membikin anak-anak semakin nggak dewasa. Hal ini tentu saja membuat mereka jauh dari mandiri apalagi kesuksesan. Mencintai boleh asal jangan mengekang.
(wk/)