Berikut fakta mengenai kanker payudara yang sedari awal perlu kamu ketahui.
- Tim WowKeren
- Jumat, 02 Juni 2017 - 15:42 WIB
WowKeren - Kehilangan Yana Zein merupakan berita besar di Indonesia. Dunia selebriti kembali kehilangan salah satu pekerja hebat. Kepulangan Yana setelah berobat dari Tiongkok diharapkan memberikan dampak positif namun sayang Yana harus kembali ke penciptaan karena kanker payudara.
Risiko kanker payudara memang meningkat seiring usia seseorang. Namun, kanker payudara bisa dialami semua usia. Satu dari 231 perempuan terkena kanker payudara pada usia lahir hingga 39 tahun.
Satu dari 25 perempuan terkena kanker payudara pada usia 40 hingga 59 tahun. Satu dari 15 perempuan terkena kanker payudara pada usia 60-79 tahun. Banyak studi yang menyebutkan 77 persen kasus kanker payudara muncul pada usia di atas 50 tahun.
Sebelum terlambat, langsung, deh, deteksi adanya kanker payudara melalui SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) seminggu setelah menstruasi. Untuk memperkaya pengetahuan tentang kanker payudara, yuk baca juga fakta-fakta berikut:
Pengertian Kanker Payudara
Payudara terbentuk dari lemak, jaringan ikat, dan ribuan lobulus (kelenjar kecil penghasil air susu). Saat seorang wanita melahirkan, Air Susu Ibu (ASI) akan dikirim ke puting melalui saluran kecil saat menyusui.
Sel-sel dalam tubuh biasanya tumbuh dan berkembang biak secara teratur. Sel-sel baru hanya terbentuk saat dibutuhkan. Tetapi proses dalam tubuh pengidap kanker akan berbeda.
Proses tersebut akan berjalan secara tidak wajar sehingga pertumbuhan dan perkembangbiakan sel-sel menjadi tidak terkendali. Sel-sel abnormal tersebut juga bisa menyebar ke bagian-bagian tubuh lain melalui aliran darah. Inilah yang disebut kanker yang mengalami metastasis.
Jika terdeteksi pada stadium awal, kanker dapat diobati sebelum menyebar ke bagian lain tubuh. Gejala awal kanker payudara adalah benjolan atau penebalan pada jaringan kulit payudara. Tetapi sebagian besar benjolan belum tentu menandakan kanker.
Diagnosis Kanker Payudara
Pada umumnya, kanker payudara didiagnosis melalui pemeriksaan rutin atau ketika penderitanya menyadari gejala-gejala tertentu yang akhirnya menjadi pendorong untuk ke dokter.Pemeriksaan fisik saja tidak cukup untuk mengonfirmasi diagnosis kanker payudara.
Jika menemukan benjolan pada payudara, dokter akan menganjurkan beberapa prosedur untuk memastikan apakah kamu menderita kanker payudara atau tidak. Berikut jenis pemeriksaan:
- Mamografi. Pemeriksaan dengan mamografi umumnya digunakan untuk mendeteksi keberadaan kanker.
- USG. Jenis pemeriksaan ini digunakan untuk memastikan apakah benjolan pada payudara berbentuk padat atau mengandung cairan.
- Biopsi. Pemeriksaan ini meliputi proses pengambilan sampel sel-sel payudara dan mengujinya untuk mengetahui apakah sel-sel tersebut bersifat kanker. Melalui prosedur ini, sampel biopsi juga akan diteliti untuk mengetahui jenis sel payudara yang terkena kanker, keganasannya serta reaksinya terhadap hormon.
Pemeriksaan Kanker Payudara
Sejak tahun 2007, relawan Yappika (Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif dan Kemitraan Masyarakat Indonesia) menghimbau dan mengajari para wanita untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Cara yang biasa disingkat SADARI ini merupakan salah satu langkah pencegahan kanker payudara.
Kematian akibat kanker payudara dapat dicegah lewat pemeriksaan. Jika kanker payudara terdeteksi pada stadium awal, peluang kamu untuk pulih total akan makin tinggi. Kemungkinan kamu membutuhkan mastektomi atau kemoterapi juga akan menurun.
Saat didiagnosis positif mengidap kanker, kamu memerlukan sejumlah pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui stadium dan tingkat penyebaran kanker. Di antaranya:
- MRI dan CT scan.
- Rontgen dada.
- Pemeriksaan tulang untuk mengecek apakah kanker sudah menyebar ke tulang.
- Biopsi kelenjar getah bening (noda limfa) di ketiak. Jika terjadi penyebaran kanker, kelenjar getah bening pertama yang akan terinfeksi adalah noda limfa sentinel.Lokasinya bervariasi jadi perlu diidentifikasikan dengan kombinasi isotop radioaktif dan tinta biru.
Gejala Kanker Payudara
Indikasi pertama dari kanker payudara yang umumnya disadari adalah benjolan atau kulit yang menebal di payudara. Namun sekitar 9 dari 10 benjolan yang muncul bukanlah disebabkan oleh kanker.
Terdapat beberapa indikasi yang perlu kamu perhatikan agar bisa ditanyakan langsung kepada dokter yang menanganimu. Contoh gejala tersebut adalah rasa sakit pada payudara atau ketiak yang tidak berhubungan dengan siklus menstruasi.
Kemunculan benjolan atau kulit payudara yang menebal serta keluarnya cairan dari puting (biasanya disertai darah) juga perlu kamu waspadai. Beberapa gejala lainnya adalah perubahan ukuran pada salah satu atau kedua payudara, perubahan bentuk puting serta kulit payudara yang mengerut.
Kamu mungkin juga akan mengalami gatal-gatal dan muncul ruam di sekitar puting. Pada bagian ketiak, bisa juga muncul benjolan atau pembengkakan. Tanda-tanda dan gejala di atas perlu kamu waspadai dan usahakan untuk menanyakan pada dokter untuk memastikan kondisi yang kamu alami.
Pengobatan Kanker Payudara
Jenis penanganan kanker payudara yang pertama biasanya adalah operasi. Jenis operasinya bervariasi tergantung jenis kanker payudara yang diderita.
Lumpektomi (operasi pengangkatan tumor)
Dalam lumpektomi, bentuk payudara akan dibiarkan seutuh mungkin. Operasi ini umumnya dianjurkan untuk tumor berukuran kecil dan meliputi pengangkatan tumor beserta sedikit jaringan sehat di sekitarnya.
Pertimbangan dalam menentukan jumlah jaringan payudara yang akan diangkat meliputi kuantitas jaringan di sekitar tumor yang perlu diangkat, jenis, ukuran, lokasi tumor dan ukuran payudara.
Mastektomi (pengangkatan payudara)
Proses operasi ini adalah pengangkatan seluruh jaringan payudara termasuk puting. Penderita dapat menjalani mastektomi bersamaan dengan biopsi noda limfa sentinel jika tidak ada indikasi penyebaran kanker pada kelenjar getah bening. Sebaliknya, penderita dianjurkan untuk menjalani proses pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak jika kanker sudah menyebar ke bagian itu.
Operasi plastik rekonstruksi Ini adalah proses operasi untuk membuat payudara baru yang semirip mungkin dengan payudara satunya. Operasi plastik rekonstruksi bisa dilakukan dengan dua cara yaitu operasi rekonstruksi langsung yang bersamaan dengan mastektomi, dan operasi rekonstruksi berkala yang dilakukan beberapa waktu setelah mastektomi. Operasi pembuatan payudara baru ini bisa dilakukan dengan menggunakan implan payudara atau jaringan dari bagian tubuh lain.
Penyebab Kanker Payudara
Penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Sulit untuk memastikan bahwa tiap penderita memiliki penyebab yang sama atau tidak. Tetapi ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi tingkat risiko terkena kanker payudara, antara lain:
Dampak Diagnosis Kanker Payudara yang Sebelumnya
Jika pernah mengidap kanker payudara atau terjadi perubahan sifat sel kanker non-invasif yang terkandung di dalam saluran payudara menjadi sel kanker invasif, kamu dapat kembali terkena kanker pada payudara yang sama atau pada payudara satunya.
Pengaruh Benjolan Jinak yang Pernah Dimiliki
Memiliki benjolan jinak bukan berarti kamu mengidap kanker payudara tapi benjolan tertentu mungkin bisa meningkatkan risiko. Perubahan kecil pada jaringan payudara seperti pertumbuhan sel yang tidak lazim dalam saluran atau lobulus, bisa meningkatkan risiko untuk terkena kanker payudara.
Pengaruh Genetika dan Riwayat Kesehatan Keluarga
Jika memiliki keluarga inti (misalnya, ibu, kakak, adik atau anak) yang mengidap kanker payudara atau ovarium, risiko kamu untuk terkena kanker payudara akan meningkat. Tetapi kanker payudara mungkin juga muncul lebih dari sekali dalam satu keluarga secara kebetulan.
Pencegahan Kanker Payudara
Pencegahan secara total untuk kanker payudara sulit diketahui karena penyebab kanker ini belum diketahui dengan pasti. Tetapi ada beberapa langkah yang dapat kamu lakukan untuk menurunkan risiko kanker payudara.
Langkah utamanya adalah dengan menerapkan gaya hidup yang sehat. Misalnya mengurangi konsumsi makanan berlemak, menjaga berat badan yang sehat dan ideal, teratur berolahraga serta membatasi konsumsi alkohol.
Cara-cara tersebut tidak hanya bisa menurunkan risiko kanker payudara tapi juga mencegah berbagai penyakit lain. Selain gaya hidup, penelitian juga menunjukkan bahwa wanita yang pernah menyusui memiliki risiko lebih rendah untuk terkena kanker payudara.
Hal ini mungkin terjadi karena masa ovulasi mereka menjadi tidak rutin saat sedang menyusui sehingga tingkat estrogen tetap stabil.
(wk/)