Berikut alasan kenapa musik lama lebih bisa meninggalkan kesan di telinga kamu ketimbang yang baru.
- Tim WowKeren
- Jumat, 21 Juli 2017 - 15:35 WIB
WowKeren - Kematian Chester Bennington meninggalkan duka pada para penggemarnya. Hal ini seakan tak pernah terbayangkan akan terjadi pada Vokalis Linkin Park. Meski mengaku pernah mengalami bully saat kecil dan sempat kecanduan narkoba, pria berusia 41 tahun ini jauh dari kondisi depresi.
Dunia kehilangan sosok yang bersemangat dengan suara khas sama seperti ketika dia beraksi di atas panggung. Sebagai pelipur lara, beberapa orang mengunggah daftar lagu yang disukai dan diketahui bahwa lagu lawas masih disukai ketimbang album baru.
Bukan tanpa sebab, hal ini terjadi. Berikut alasan kenapa musik lama lebih bisa meninggalkan kesan di telinga kamu ketimbang yang baru:
Dilakukan Semua Orang
Nostalgia terhadap sebuah jenis musik favorit saat remaja yang awet hingga dewasa atau usia lanjut adalah fenomena yang lazim dialami setiap orang. Kenyamanan atas karya dari musisi favorit saat melewati masa puber akan terus ada di bawah alam sadar.
Selain persoalan kultural, fenomena ini juga dikaitkan dengan perspektif neurosains atau kondisi yang terjadi di dalam otak.
Dihafal dengan Gerakan
Mark Joseph Stern, seorang penulis dari majalah harian Slate, membuat sebuah ulasan berjudul Neural Nostalgia: Why do we love the music we heard as teenagers? Memahami apa yang terjadi pada otak saat seseorang mendengar musik penting menjelaskan fenomena ini.
Saat seseorang pertama kali mendengar untaian nada dalam sebuah lagu, para ahli saraf menemukan rangsangan pada bagian korteks. Sementara saat seseorang menyanyikannya lewat mulut, korteks premotor akan aktif dan membantu koordinasi gerakan tubuh mulai dari goyangan pinggul, anggukan kepala dan sebagainya.
Lirik Picu Kenangan
Pernahkah kamu ketika bernyanyi, paham lirik lalu lagu itu seakan membuat kamu masuk ke dalamnya sehingga membuka kenangan? Saat seseorang memperhatikan lirik dan komposisi instrumen sebuah musik maka bagian korteks parietal akan aktif.
Sedangkan saat lagu tersebut memicu kenangan pribadi di masa lampau, bagian korteks prefrontal akan beraksi. Bagian ini khusus untuk menjaga informasi pribadi dan seputar hubungan, dan memang mudah dipicu lewat rangsangan lagu.
Dengar Lagu Bikin Senang
Stern mengutip sebuah riset yang dipublikasikan oleh Montreal Neurological Institute and Hospital bahwa saat mendengarkan musik, otak akan kebanjiran zat-zat yang membuat suasana hati menjadi senang dan nyaman.
Perubahan mood ini dipengaruhi dopamin, serotonin dan oksitosin. Semakin cinta pada sebuah lagu, kondisi otak serupa saat seseorang mengonsumsi kokain.
Usia Sensitif Musik
Kamu akan lebih menyukai musik yang booming ketika kamu duduk di bangku SMP hingga kuliah. Pada usia 12-22 tahun adalah masa dimana efek neurologis atas musik paling kencang terjadi di otak.
Inilah penjelasan mengapa kenangan atas musik favorit bisa bertahan begitu lama hingga manusia menua. Pada masa usia-usia itu perkembangan saraf manusia sedang mencapai puncaknya.
Masa Pubertas
Saat seseorang membangun sebuah koneksi terhadap sebuah lagu, dia sedang menyusun jejak ingatan yang kuat dan bersifat emosional sebab ada andil dari hormon pertumbuhan pubertas.
Hormon pertumbuhan pubertas memberi tahu otak tentang segala hal yang dicecap indera kala remaja sebagai sesuatu yang amat penting termasuk lagu. Ingatan ini serupa dengan kenangan atas ciuman pertama atau saat berbincang mesra dan masa intim saat masa-masa "cinta monyet".
Jangan kaget bila kamu yang menggandrungi Linkin Park saat duduk di bangku SMP, langsung kangen ketika mendengar berita kematian Chester. Suara pria dengan tubuh penuh tato ini juga akan membuat para penggemar rindu.
(wk/)