Di bawah ini sejumlah gejala depresi yang bisa dialami semua orang. Ada baiknya kamu pelajari agar dapat menghindari dampak negatifnya.
- Tim WowKeren
- Jumat, 22 Desember 2017 - 16:55 WIB
WowKeren - Tak cuma penggemar K-Pop, publik di seluruh dunia juga menaruh perhatian besar pada kasus bunuh diri Jonghyun SHINee. Jonghyun ditemukan dalam kondisi kritis hingga meninggal dunia karena menghirup gas monoksida dari briket yang dibakar di atas penggorengan, Senin (18/12) lalu.
Depresi, seperti yang dilaporkan diderita oleh Jonghyun rupanya merupakan gejala penyakit serius. Beberapa ciri diantaranya adalah kesedihan, kurangnya inisiatif, serta kehilangan kekuatan fisik dan mental.
Merangkum dari Brightside, hanya dokter yang bisa mendiagnosis depresi dengan benar. Akan tetapi bukan berarti kita tak bisa memperhatian gangguan semacam ini, karena pada dasarnya gejala depresi dapat dialami semua orang.
Berikut ini 8 gejala depresi tersembunyi yang bisa kamu lihat, sehingga dapat menghindari konsekuensi negatifnya:
1. Pikiran Filosofis
Seseorang yang tanpa sadar menderita depresi biasanya selalu mencoba menggunakan istilah filosofis setiap kali menceritakan masalahnya, sesederhana apapun itu. Misalnya untuk mengatakan "Aku kurang tidur", seseorang dengan gejala tersembunyi memilih bilang, "Hal seperti ini sering kualami".
Lebih dari itu, orang yang depresi akan lebih sering bicara tentang makna hidup. Kalimat yang mereka gunakan juga seringkali abstrak dan ambigu.
2. Mencari Alasan
Orang yang depresi sering menggunakan alasan untuk menyembunyikan keinginan dan kesedihan mereka sebenarnya. Contoh sederhananya adalah mereka menulis cerita menyentuh mengapa tidak bisa hadir di pesta ulang tahun teman, makan siang bersama dengan rekan kerja, atau yang lainnya. Ini dilakukan karena mereka tidak ingin orang lain terganggu dengan kondisi emosional yang sedang dialami.
3. Kurang Reaksi
Ketiga adalah kurangnya reaksi. Gejala depresi lainnya ketika seseorang menafsirkan sesuatu yang berbeda dari orang lain. Mereka bisa saja berhenti mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan pendapat dan keinginan. Bahkan yang paling parah, mereka tidak akan merasakan sakit meskipun itu sesuatu yang tak terelakkan. Misalnya saja saat harus kehilangan seseorang yang mereka cintai (keluarga, kerabat).
4. Psikosomatik
Gejala selanjutnya, ketika seseorang mengeluh sakit tetapi pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa mereka baik-baik saja. Ini karena kondisi yang tidak stabil. Pada akhirnya, rasa sakit tersebut menyebabkan kegelisahan dan membuat orang menderita psikosomatik.
5. "Mental Chewing Gum"
Istilah di atas entah tepat atau tidak, mari simak saja penjelasannya berikut. Dalam keadaan tertekan, orang akan terobsesi dengan hal-hal tertentu. Mereka menciptakan ilusi seolah sedang mencari jawaban, padahal sebenarnya tidak. Mereka yakin sedang mencari jawaban, tapi pikiran obsesif tadi justru tidak bisa menyelesaikan masalah.
6. Penampilan Berantakan
Kondisi depresi juga bisa dilihat dari penampilan seseorang. Jika seseorang tidak memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan, kamu bisa menanyakan apakah dia baik-baik saja atau tidak. Hal ini berlaku untuk orang-orang yang tidak bermasalah dalam hal kerapian.
7. Produktivitas Menurun
Tanda ini juga buruk. Seseorang yang mengalami depresi tidak dapat mengatasi tugas rutin harian mereka, mudah lupa, sering merasa lelah dan merasa tidak masuk akal dalam setiap tindakan. Demikian sebaliknya, jika seseorang yang tidak terlalu aktif menjadi sangat pekerja keras dan berusaha berprestasi. Dalam hal ini, mereka mencoba melepaskan diri dari perasaan sebenarnya.
8. Bahagia Berlebihan
Orang seringkali menyembunyikan depresi di balik suasana hati yang riang. Mereka terlihat seolah seperti orang yang paling bahagia di dunia. Mereka juga menghindari percakapan serius dan banyak bercanda meski topiknya sulit. Bantu mereka dengan berbincang dalam waktu lama dan saling percaya satu sama lain.
Jika kamu atau rekanmu mengalami gejala/tanda di atas, berikut yang bisa kamu lakukan:
Kalimat dukungan seperti, "Semangatlah", "Tenang" dan sebagainya juga tidak akan bekerja. Kamu bisa membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah atau tugas rutin, karena depresi menguras tenaga dan emosi seseorang.
Yang paling penting, jangan menyepelekan dan temuilah dokter/psikiater. Pedulilah pada sekitarmu, karena setiap senyuman dan postingan sempurna seperti apapun di jejaring sosial bisa jadi hanya untuk menyembunyikan masalah yang cukup serius. Tidak ada salahnya mengkhawatirkan dan peduli pada orang-orang terdekat.
(wk/)