Dinilai Sebarkan Ujaran Kebencian di MedSos, Ahmad Dhani Kena Dakwa UU ITE
Selebriti

Ahmad Dhani telah menjalani sidang kasus ujaran kebencian dan telah didakwa dengan UU ITE.

WowKeren - Sidang kasus ujaran kebencian yang menyeret musisi Ahmad Dhani telah digelar pada 16 April 2018. Suami Mulan Jameela tersebut datang didampingi oleh putranya, Dul Jaelani, ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Dedyng Wibianto Atabay, menyebutkan bahwa Dhani sengaja menyebar kebencian berbentuk SARA (suku, ras, agama, dan antargolongan). Dedyng juga menyebut saksi bernama Bimo ikut menyebarkan kebencian bersama Dhani.


"Bahwa Ahmad Dhani bersama saksi Bimo pada Februari 2017, bertempat di Gang Edi, Setiabudi, Jakarta Selatan," ujar Dedyng dikutip WowKeren saat sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pada Senin (16/4). "Dengan sengaja menyebar kebencian berdasar SARA."

Lebih Lanjut, Dedyng menjelaskan kronologi ujaran kebencian yang dilakukan Dhani lewat media sosial Twitter. Pentolan grup band Dewa 19 tersebut mengirim tulisannya melalui aplikasi pesan kepada Bimo.

"Sejak 2010 hingga 2014 Ahmad Dhani memakai sendiri akun Twitter miliknya lewat komputer. Sejak 2014, Ahmad Dhani memakai handphone Iphone 6 yang dikhususkan untuk media sosial," jelas Dedyng. "Kemudian handphone tersebut digunakan Ahmad Dhani untuk mengirim tulisan kepada saudara saksi ST alias Bimo melalui pesan WhatsApp."

Selanjutnya, Dedyng membeberkan bahwa Bimo dibayar sebesar Rp 2 juta sebagai admin akun Twitter Dhani. Tugas Bimo mengunggah tulisan yang dikirim oleh Dhani dan diposting di Twitter.

"Saksi ST alias Bimo berperan sebagai admin untuk akun Twitter Ahmad Dhani," sambung Dedyng. "Saksi Bimo mendapat gaji sebesar Rp 2 juta."

Selain itu, Dedyng juga mendakwa Dhani dengan Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal 45A ayat 2 tersebut mengancam hukuman paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Usai dakwaan dibacakan oleh JPU, Ketua Majelis Hakim, Ratmoho, memutuskan sidang akan dilanjutkan pada 23 April mendatang. Agenda sidang tersebut adalah pembacaan eksepsi atau nota pembelaan dari pihak Dhani.

Sementara itu, kasus ujaran kebencian Dhani bermula dari laporan yang diajukan oleh Jack Boyd Lapian. Jack yang mengaku sebagai pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ini melaporkan unggahan Dhani di akun Twitter @AHMADDHANIPRAST.

You can share this post!

Related Posts