Viral Kisah Wanita Pendaki Gunung Rinjani Disetubuhi Demi Atasi Hipotermia, Begini Kata Dokter
SerbaSerbi

Dalam kisah viral yang dibagikan oleh warganet, seorang wanita pendaki Gunung Rinjani terpaksa harus disetubuhi agar nyawanya tertolong setelah terkena hipotermia.

WowKeren - Media sosial tengah dihebohkan oleh kisah wanita pendaki Gunung Rinjani yang terkena hipotermia. Pasalnya, diceritakan bahwa seorang teman pendaki pria menyetubuhi wanita tersebut untuk menyelamatkan nyawanya.

Salah satu warganet yang turut membagikan kisah tersebut adalah akun Instagram @willykurniawanid. Berdasarkan tangkapan layar yang dibagikan, wanita pendaki itu disebut sudah hampir meninggal akibat hipotermia.

"Yang paling darurat jika sudah sampai tahap hipotermia mesti disetubuhi. Gue pernah ada kasus cewek hipotermia hampir meninggal di Gunung Rinjani," demikian kutipan kisah tersebut. "Segala cara sudah dicoba tapi cewek ini enggak membaik. Akhirnya ada anak Mapala berpengalaman yang nyaranin untuk menyetubuhi cewek ini agar suhu tubuhnya hangat. Akhirnya salah satu teman dekatnya cowoknya menyetubuhi cewek tersebut."

Menanggapi kisah ini, beberapa ahli kesehatan pun menjelaskan metode skin-to-skin darurat untuk para penderita hipotermia. dr Prayoga Noor Hakim menyebut bahwa skin-to-skin hingga bersetubuh itu berlebihan. Ia juga mengungkap bahwa menyetubuhi korban hipotermia malah akan berisiko mengganggu ritme jantung.


"Bersetubuh malah enggak boleh sebenarnya. Karena untuk skin-to-skin, rewarming-nya aja mesti gentle. Bahkan enggak boleh di-massage," terang dr Prayoga dilansir detikHealth pada Rabu (24/7). "Kalau bikin gerakan yang unnecessary bisa trigger makin parah kalau udah ada gangguan ritme jantung."

Sementara itu, spesialis bedah dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), dr Wisnu Pramudito D. Pusponegoro, mengungkap bahwa metode skin-to-skin justru berbahaya dilakukan untuk penderita hipotermia yang memiliki luas permukaan kulit yang sama. Biasanya, metode ini hanya dilakukan oleh ibu pada bayinya yang baru lahir.

"Kalau skin-to-skin dengan luas permukaan kulit yang sama, penolong bisa ikut hipotermia," jelas Wisnu. "Memang panasnya dia mengalir tapi dingin juga akan ikut mengalir. Itu enggak boleh. Penolong tidak boleh jadi korban berikutnya."

Di sisi lain, metode yang digunakan dalam kisah viral tersebut juga disebut keliru oleh Kepala Bagian Humas Badan SAR Nasional (Basarnas), Suhri Sinaga. Menurut Suhri, penanganan hipotermia cukup dengan mengganti pakaian dan menggunakan selimut.

"Menurut saya, itu enggak benar cara menanganinya. Kalau yang kami pernah pelajari, cukup dengan mengganti pakaian dan memakai selimut saja," terang Sinaga dilansir Kompas. "Tidak ada itu metode menyetubuhi, itu ajaran sesat."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait