Pelaku Bom Ketapel Yang Ingin Gagalkan Pelantikan Presiden Ngaku Pengacara
Nasional

Polda Metro Jaya mengamankan 6 tersangka yang diduga akan melemparkan bom peluru dengan ketapel ke Gedung Parlemen. Sedianya bom-bom buatan tangan itu digunakan untuk menggagalkan pelantikan Presiden-Wapres.

WowKeren - Kepolisian telah bekerja keras meringkus pihak-pihak yang berencana menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden pada Minggu (20/10) lalu. Selain menangkap dua orang pemegang undangan yang kedapatan memiliki senjata tajam, Polda Metro Jaya juga diketahui menangkap enam tersangka yang berencana melakukan peledakan bom.

Salah satu tersangkanya adalah SH alias Samsul Huda. Belakangan terungkap bahwa tersangka Samsul diduga mengotaki upaya penggagalan pelantikan tersebut.

Dalam proses penyelidikan, Samsul mengaku berprofesi sebagai pengacara. "Pekerjaan pengacara, (di kantor pengacara) SHJ, Samsul Huda John," ujar Samsul di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (22/10).

Lebih lanjut, Samsul pun mengaku sudah menjadi advokat sejak 1999 silam. Ia mengaku merupakan warga Klaten, Jawa Tengah, yang lantas pindah ke Jakarta beberapa tahun belakangan. "Saya ke Jakarta sejak Desember 2008," jelasnya, dilansir dari laman Detik News.

Sejak di Jakarta, Samsul sendiri tinggal berpindah-pindah tempat. Mulai dari indekos hingga masjid pernah menjadi tempat persinggahannya.


Namun demikian, Samsul enggan menceritakan gamblang apa maksud dan tujuannya merantau ke Ibu Kota. Ia tak mengaku apakah kepindahannya ke Jakarta atas inisiatif pribadi atau perintah orang lain. "Tidak. Saya ke Jakarta mau memperpanjang surat izin pengacara saya," katanya.

Terkait dengan rencana penggagalan pelantikan ini, Samsul mengaku merencanakannya lewat percakapan di grup WhatsApp bertajuk F alias Fisabilillah. Di situlah Samsul dan kelima tersangka lain merancang skenario untuk melawan aparat pengamanan di Gedung Parlemen.

Sedianya ia akan melemparkan bom bola karet yang ia rancang sendiri dengan ketapel. Di dalamnya ditambahkan sejumlah kelereng, mesiu, dan gotri. Sebelum diringkus, Samsul mengaku sudah membuat sekitar 34 peluru bola karet.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengungkapkan bahwa keenam tersangka ternyata memiliki metode komunikasi tersendiri. Yakni dengan menggunakan sandi mirror, yaitu menulis pesan pada keyboard ponsel namun mengganti huruf seolah-olah merupakan hasil proyeksi cermin.

"Dalam komunikasi, mereka menggunakan sandi mirror," kata Argo dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Senin (21/10). "Komunikasi dengan sandi mirror agar banyak orang enggak tahu (isi percakapan)."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait