Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdik DKI, Syaefuloh Hidayat, mengaku dirinya kerap menyisir anggaran di internal Disdik. Namun ia juga tak membantah bahwa ada sejumlah anggaran yang lolos dari pengawasan.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 30 Oktober 2019 - 16:52 WIB
WowKeren - Rencana anggaran Pemprov DKI Jakarta akhir-akhir ini kerap mendapat sorotan. Setelah usulan anggaran jalur sepeda yang meningkat drastis menjadi Rp 73 miliar, kini usulan anggaran Dinas Pendidikan (Disdik) DKI juga mendapat sejumlah kritik.
Pasalnya, Disdik DKI disebut telah menganggarkan Rp 82 miliar untuk menyuplai lem aibon. Sempat menghebohkan publik hingga viral di media sosial, Disdik DKI kini merevisi anggaran alat tulis kantor (ATK) seluruh sekolah di Suku Dinas Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat.
"Insyaallah itu akan disesuaikan dengan kebutuhan nantinya. Di 23 rekening untuk ATK sudah seluruhnya Rp 22 miliar yang tadinya anggaran lem aibon itu," tutur pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdik DKI, Syaefuloh Hidayat, di Gedung DPRD DKI pada Rabu (30/10). "Jadi memang perlu disesuaikan. Ini hanya sementara."
Syaefuloh juga sempat menyebut bahwa sebenarnya tidak ada anggaran lem Aibon sebesar Rp 82 miliar. "Belanja alat tulis kantor yang di situ ada komponen Aibon disampaikan Rp 82 miliar, sebenarnya alat tulis kantor seluruh sekolah itu hanya Rp 22 miliar," pungkas Syaefuloh.
Menurut Syaefuloh, anggaran awal memang masih sangat dinamis dan juga bisa berubah seiring berjalannya pembahasan di komisi. Oleh sebab itu, pihaknya juga masih akan melakukan penyesuaian kembali.
"Artinya pada saat penyusunan anggaran dilakukan secara detail di sekolah, mudah-mudahan komponen Aibon yang Rp 82 miliar itu tidak ada," terang Syaefulloh. "Kita akan lakukan penyesuaian."
Selain itu, Syaefulloh juga mengaku dirinya kerap menyisir anggaran di internal Disdik. Apabila ada anggaran yang dinilainya ganjil, Syaefulloh mengaku akan langsung merevisinya. Namun ia juga tak membantah bahwa ada sejumlah anggaran yang lolos dari pengawasan.
"Kalau kemudian ada sekolah yang ATK-nya di atas Rp 500 juta, saya sentil juga, kenapa kok bisa di atas Rp 500 juta?" ungkap Syaefulloh. "Sepanjang itu rasional dan itu betul-betul digunakan dalam rangka memenuhi pelayanan terbaik bagi siswa-siswa itu dipertahankan."
Revisi anggaran itu disebut Syaefulloh akan diserahkan ke DPRD dalam pembahasan anggaran di rapat komisi. Selain itu, Syaefulloh juga kembali memastikan bahwa anggaran yang sempat beredar hanya bersifat sementara.
"Yang di media mengenai Rp 82 miliar itu adalah anggaran sementara yang disusun oleh Sudin," tutur Syaefuloh. "Kalau anggaran dari sekolah, insyaallah, mudah-mudahan tidak sebesar itu. Itu tadi hanya sementara saja."
(wk/Bert)