TikTik merupakan aplikasi yang tengah digandrungi oleh anak milenial, namun tak sedikit yang mencap penggunanya sebagai anak 'alay'. Menanggapi penilaian tersebut pihak TikTok pun memberikan pembelaan sebagai berikut.
- Nidya Putri
- Jumat, 20 Desember 2019 - 16:01 WIB
WowKeren - Siapa yang tak mengenal TikTok? TikTok adalah aplikasi video pendek yang digemari banyak anak milenial. Namun, tak sedikit pula yang mencap pengguna aplikasi ini sebagai anak "alay".
Lalu, bagaimana tanggapan TikTok terhadap penilaian tersebut? Head of User and Content Operations TikTok Indonesia, Angga Anugerah Putra. pun mengatakan jika tak semua konten di TikTok adalah konten "alay".
"Banyak konten serius juga di TikTok," ujar Angga, Kamis (19/12). "Apalagi yang banyak viewers-nya itu yang konten serius. TikTok itu open platform buat banyak orang."
Angga mengatakan jika dirinya percaya ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam 15 detik, di mana video pendek pun bisa mengubah hidup banyak orang dan memberikan dampak yang besar bagi kehidupan sosial. Jadi bukan sekadar joget-joget saja.
"TikTok itu open platform untuk konten kreator mencoba memberikan story dari banyak orang," terang Angga. "Kami sudah served 150 negara jadi 75 bahasa dan 50 global office termasuk Jakarta."
"TikTok ini bukan sosial media, TikTok adalah content distribution platform," sambungnya. "Kalau aku punya akun sosial media seribu atau 2 ribu follower yang lihat kan yang follow atau 60 persen, tapi di tiktok 5 orang followers, bahkan tidak ada bisa 5 ribu viewers karena menggunakan machine learning. Dia men-capture habit kita, jadi video yang muncul sesuai kita."
Dengan situasi seperti ini, TikTok memiliki keuntungan di mana pengguna tak perlu memikirkan soal follower melainkan memahami pentingnya mempunyai konten yang bagus. Dari sana, user untuk menjadi fans atau follower bisa meningkat karena konten yang bagus itu dapat menjadi viral.
Selain itu, TikTok juga memiliki video shooting tools yang lengkap sebenarnya membuat video tampil lebih keren. Aplikasi ini juga memiliki musik legal dari musisi atau labelnya sehingga penggunanya bisa lebih bebas berekspresi.
"Jadi feel free tapi ketika video keluar kita nggak jamin, tapi selama di TikTok aman," pungkasnya. "Once user suka konten kita lama-lama, mereka bisa melihat sosial media kita dan dari sana terbangun engagement."
(wk/nidy)