Sebuah kedai bubble tea di Shanghai, Tiongkok menjadi sorotan karena menjadi lokasi syuting artis terkenal. Para calo yang memanfaatkan momen tersebut pun menjual minuman dari kedai itu seharga Rp 800 ribu per gelasnya.
- Nidya Putri
- Sabtu, 11 Januari 2020 - 20:54 WIB
WowKeren - Bubble Tea nampaknya masih menjadi minuman populer yang disukai oleh para anak muda. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir minuman yang berasal dari Taiwan tersebut telah menjadi tren hingga menjamur kemana-mana.
Bahkan minuman yang terbuat dari teh susu dengan isian bubble hitam yang kenyal ini tak hanya populer di negara asalnya namun juga di Indonesia, Singapura, Malaysia dan Tiongkok. Karena populernya minuman tersebut, para artis pun turut menjadikan Bubble Tea ini sebagai ladang bisnis.
Sebuah kedai bubble tea bernama "Machi Machi" ini beberapa waktu lalu telah membuka cabangnya di Shanghai, Tiongkok. Kedai yang berasal dari Jepang ini sebenarnya sudah terkenal sehingga membuat banyak orang penasaran.
Namun, ada hal lain yang membuat bubble tea ini semakin terkenal. Hal ini dikarenakan aktor sekaligus penyanyi asal Taiwan Jay Chou melakukan syuting video klip lagunya yang berjudul "Won't Cry" di kedai tersebut.
Alhasil, ratusan orang yang antre di kedai bubble tea tersebut tak hanya berasal dari kalangan foodies namun juga para penggemar Jay Chou. Sayangnya, kesempatan ini dimanfaatkan oleh para calo untuk mengeruk keuntungan.
Di tengah anteran yang mengular tersebut, bisa didapati sejumlah calo yang bermaksud memebeli minuman tersebut untuk dijual kembali dengan harga yang tinggi. Diketahui, para calo tersebut menjual segelas bubble tea seharga 58 USD atau setara Rp 803 ribu. Padahal minuman itu sendiri hanya seharga Rp 30 ribu sampai Rp 84 ribu.
Tak sampai di situ, para calo yang telah mendapatkan minuman tersebut akan memasang tarif seharga Rp 99 ribu untuk orang yang ingin berfoto sambil memegang bubble tea tersebut. Meski mahal masih banyak pembeli yang berminat berfoto dan membayar mahal untuk segelas bubble tea populer asal Jepang ini.
Akibat dari fenomena tersebut, pihak kedai pun telah memasang tanda larangan untuk para calo tersebut. Sayangnya hal tersebut tidak digubris sehingga pemilik kedai meminta bantuan polisi untuk menertibkan para calo tersebut.
(wk/nidy)