Akibat kondisi yang tidak pasti itu, membuat pertumbuhan ekonomi dunia kian melemah. Banyak negara yang kewalahan untuk mempertahankan situasi ekonomi di negaranya.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 06 Februari 2020 - 12:25 WIB
WowKeren - Menteri Keuangan Sri Mulyani lagi-lagi berbicara mengenai kondisi iklim global yang dihantui ketidakpastian. Ketidakpastian ini tidak hanya terjadi pada 2019 namun akan berlanjut di 2020.
Hal itu disampaikan Sri di acara Mandiri Investment Forum 2020 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (5/2). "Ketidakpastian di 2019 terus berlanjut di 2020," kata Sri.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu kemudian berkelakar jika ketidakpastian iklim ekonomi global disebabkan karena ulah kaum Adam. Ia mencontohkan kasus Brexit, perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok yang dipicu oleh kaum laki-laki. Begitu juga dengan demo berkepanjangan yang terjadi di Hong Kong.
"Dan ini hampir semuanya berkaitan dengan perbuatan manusia," lanjut Sri. "Dalam artian, laki-laki yang membuat masalah seperti Brexit, perang dagang As-Cina, protes di Hong Kong meski dipicu oleh seorang pemimpin perempuan, kemudian perang dagang Jepang-Korea, semua adalah laki-laki."
Akibat kondisi yang tidak pasti itu, membuat pertumbuhan ekonomi dunia kian melemah. Banyak negara yang kewalahan untuk mempertahankan situasi ekonomi di negaranya. Kondisi-kondisi semacam ini memicu timbulnya volatilitas di pasar global.
"Sekarang setelah satu dekade terakhir banyak negara yang dalam tanda kutip kehabisan amunisi, kekurangan strategi dalam menghadapi perlemahan ekonomi global," ujar Sri. "Ini berkontribusi terhadap munculnya volatilitas di pasar global."
Tentu saja, Indonesia tak lepas dari dampaknya. Ekonomi yang ditargetkan bisa tumbuh sebesar 5,3 persen rupanya meleset hingga mentok di angka 5,02 persen. Tak hanya itu, angka ini juga relatif lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 5,17 persen.
Meski demikian, Presiden Joko Widodo alias Jokowi mengingatkan Indonesia untuk mensyukuri capaian tersebut. Sebab dengan kondisi yang sekarang ini, mempertahankan pertumbuhan ekonomi di angka itu cukup sulit.
(wk/zodi)