Menkeu Sri Mulyani Beber Risiko Ekonomi RI Imbas Konflik Tiongkok dan Taiwan
Instagram/smindrawati
Nasional

Kedatangan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan beberapa waktu lalu, tampaknya meningkatkan ketegangan di kawasan Asia Timur. Menkeu RI pun buka suara atas dampak ketegangan ini.

WowKeren - Setelah kedatangan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taiwan beberapa waktu lalu, memicu reaksi keras dari Tiongkok. Di samping itu, hal ini juga disebut membuat ketegangan geopolitik di Taiwan menimbulkan risiko baru perekonomian dunia.

Terkait dengan ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan itu, Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani lantas mewaspadai meningkatnya proteksionisme perdagangan oleh negara-negara dunia. Kemudian, eskalasi yang luar biasa, disebutnya juga akan menimbulkan kemungkinan dampak dari sisi keamanan, namun juga selalu dimensinya dari sisi politik ekonomi.

Sri Mulyani kemudian menuturkan bahwa ketegangan baru di kawasan Timur Asia itu menambah dinamika politik global yang saat ini diketahui memang sudah tinggi seiring dengan adanya perang di Ukraina. Dengan begitu, kondisi tersebut menimbulkan situasi yang semakin tidak aman bagi seluruh dunia.

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan bahwa dinamika geopolitik itu mengancam hubungan ekonomi negara-negara dunia yang selama tiga dekade terakhir cenderung baik. Adapun hubungan ekonomi yang dimaksud adalah hubungan dagang, investasi, lalu lintas manusia, arus modal dan arus informasi, serta barang yang tidak banyak terdisrupsi selama puluhan tahun terakhir.


Sri Mulyani lantas menilai dengan ketegangan hubungan antara Tiongkok dan Taiwan, maka akan mendorong banyak negara yang semakin meningkatkan ketahanan ekonominya masing-masing. Hal ini menandakan bahwa proteksionisme kemungkinan akan menjadi semakin besar, blok juga akan menjadi semakin menguat.

Sri Mulyani kemudian membeberkan situasi seperti itu mendorong hubungan investasi perdagangan ke depan tidak lagi berdasarkan kepada arus barang, modal dan manusia yang sifatnya bebas seperti sekarang ini. Menurutnya, yang terjadi adalah sebaliknya, di mana hubungan ekonomi negara-negara dunia nanti bakal lebih memperhitungkan dari aspek geopolitik.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu mengatakan bahwa meningkatnya ketegangan di antara Tiongkok dan Taiwan akan memicu risiko ekonomi domestik. Meski begitu, Indonesia juga dinilai berisiko terkena efek rambatan dari kondisi tersebut.

Menurut Febrio, dampak konflik Tiongkok dan Taiwan masih terbatas, namun dengan situasi yang terus memanas, akan terus diwaspadai dampaknya terhadap ekonomi domestik. "Kita lihat potensi dampaknya pada mobilitas perdagangan dan investasi," ujar Febrio kepada wartawan, dilihat Senin (8/8).

(wk/tiar)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait