Menkeu Sri Mulyani Optimis Ekonomi Nasional Terus Membaik, Angka Kemiskinan-Pengangguran Bisa Turun
Instagram/smindrawati
Nasional

Seiring dengan kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia yang semakin terkendali, membuat ekonomi nasional juga meningkat. Hal ini lantas juga mempengaruhi angka kemiskinan dan pengangguran.

WowKeren - Kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia saat ini telah menunjukkan perbaikan dan semakin terkendali. Bahkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani meyakini di tahun 2022 ini, jumlah orang miskin hingga pengangguran bisa turun.

Keyakinan Sri Mulyani itu lantaran ekonomi nasional menunjukkan terus membaik di tengah masih adanya kasus COVID-19. Ia pun mengatakan asumsi tingkat pengangguran terbuka di tahun 2023 nanti dapat ditekan dalam kisaran 5,3 persen hingga 6,0 persen.

Selain itu, kata Sri Mulyani, pemerintah juga mengubah asumsi angka kemiskinan dalam rentang 7,5 persen hingga 8,5 persen. Hal ini juga diproyeksikan dengan asumsi rasio gini berada di kisaran 0,375 hingga 0,378 persen, serta Indeks Pembangunan Manusia dalam rentang 73,31 hingga 73,49.

Sri Mulyani lantas menerangkan selama dihantam gelombang COVID-19 varian Delta yang merebak di tahun lalu, ekonomi Indonesia mampu mencapai 3,7 persen. Namun pemulihan ekonomi juga berlanjut di kuartal I 2022, dengan pertumbuhan mencapai 5,01 persen.

Sri Mulyani mengatakan bahwa ekonomi di Indonesia menunjukkan tren peningkatan diikuti dengan pemulihan yang kuat. Tak terkecuali pada sektor ketenagakerjaan dan tingkat kemiskinan yang kondisinya mulai membaik.



Lebih lanjut, Sri Mulyani mengungkapkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 5,83 persen pada Februari 2022. Sebelumnya, TPT berada di kisaran 6,26 persen pada Februari 2021 lalu.

Sementara untuk angka kemiskinan nasional, Sri Mulyani menuturkan terlihat konsisten mengalami penurunan. Pada awalnya, angka kemiskinan di awal 2020 mencapai 10,1 persen, kini telah kembali menjadi single digit yakni 9,7 persen di tahun 2021.

Dalam rangka menekan angka pengangguran, Sri Mulyani membeberkan pengelolaan fiskal harus sehat. Di samping itu, juga disertai dengan efektivitas stimulus kepada transformasi ekonomi dan perbaikan kesejahteraan rakyat.

Sebelumnya, analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Revandra Aritama mengatakan dengan adanya aturan pelonggaran masker, maka diproyeksikan bisa menguatkan kurs rupiah.

Menurut Revandra, rupiah berpeluang menguat seiring Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat nilai ekspor Indonesia mengalami kenaikan ditopang oleh kenaikan harga batu bara.

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts