Hari Raya Galungan akan jatuh pada Rabu (19/2) pekan ini, karena itu Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali akan mengarahkan timnya untuk mengawasi penyembelihan daging babi yang aman dikonsumi untuk warganya.
- Nidya Putri
- Selasa, 18 Februari 2020 - 14:10 WIB
WowKeren - Peternak babi di sejumlah wilayah di Indonesia beberapa waktu terakhir telah menghadapi persoalan virus diduga African Swine Fever (ASF) alias flu babi Afrika yang menyebabkan ribuan babi mati. Salah satu wilayah yang terserang wabah tersebut adalah Bali.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali pun mengerahkan timnya untuk mengawasi pemotongan babi di Hari Raya Galungan (Hari Raya Umat Hindu). Hal ini demi menjaga kualitas dan keamanan daging babi untuk dikonsumsi pada hari itu.
Akan ada 10 tim lebih dari Provinsi yang dikerahkan untuk mengawasi pemotongan babi. Setiap kabupaten juga menerjunkan petugas ke lapangan.
"Iya terus turun, Provinsi ada lebih dari 10, di Kabupaten kan juga ada petugasnya yang ngawasi tempat-tempat pemotongan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali IB Wisnuardhana dilansir Detikcom, Selasa (18/2).
Lebih lanjut, Dinas Pertanian akan memastikan babi-babi yang dipotong oleh masyarakat nantinya merupakan babi yang sehat dan juga telah melakukan tes mortem atau antemotem. "Ya kan ada standar operasional prosedurnya, tes mortem sama antemortem," jelas Wisnuardhana. "Artinya babi yang dipotong itu babi yang tidak sakit dan bukan babi yang sudah mati itu aja yang diawasi."
Hingga saat ini, pemerintah provinsi masih belum menemukan adanya laporan terkait penyembelihan babi yang tidak sehat. Babi yang dipotong oleh masyarakat dalam Hari Raya Galungan aman untuk dikonsumsi.
"Untuk saat ini masih aman, belum ada laporannya. Imbauan untuk masyarakat jangan menyembelih babi yang sakit dan jangan menyembelih babi yang mati karena sakit itu aja," pungkas Wisnuardhana.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar, Bali, memutuskan untuk memborong 525 ekor babi yang masih sehat dari 11 desa terdampak virus flu babi Afrika tersebut. Hal ini dilakukannya demi demi menyelamatkan para peternak dari kerugian akibat harganya yang anjlok.
(wk/nidy)