Pendiri Microsoft, Bill Gates turut menyinggung pernyataan kontroversional Presiden Amerika Serikat Donald trump soal injeksi disinfektan untuk membasmi virus corona dalam tubuh.
- Nidya Putri
- Kamis, 30 April 2020 - 11:07 WIB
WowKeren - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjadi sorotan usai pernyataan kontroversial seputar pandemi COVID-19. Salah satunya adalah menyarankan injeksi disinfektan untuk membunuh virus corona.
Rupanya ide Trump tersebut juga menarik perhatian pendiri Microsoft Bill Gates. Dikutip dari Vox, awalnya Gates ditanyai soal tudingan teori konspirasi yang menerpanya.
Dari tudingan menciptakan COVID-19 sampai ada agenda tersembunyi dalam pembuatan vaksinnya. Gates pun menjawab pertanyaan tesebut sembari menyinggung pernyataan kontroversial Trump.
"Hal itu sungguh menyedihkan. Siapa yang mengira Lysol (produk disinfektan) sampai harus mengingatkan orang untuk tidak menyuntikkannya ke dalam tubuh?" kata Gates. "Beberapa orang benar-benar beraksi (menuruti Trump)."
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa misinformasi semacam itu sangat berbahaya, termasuk hoaks yang beredar tentang dirinya di internet. "Misinformasi itu berbahaya, khususnya di saat krisis tipe seperti ini di mana kemauan orang untuk mempercayai hal-hal liar sedang tinggi," imbuhnya.
"Kita semua berada dalam situasi sangat sulit. Jadi ada seseorang berkata kita harus menyalahkan negara ini atau orang itu, yang berbeda dari kita," sambungnya. "Ini merupakan hal berbahaya. Saya pikir (hoaks) itu tidak terlalu menyebar, saya harap akan segera lenyap."
Meski tidak menunjuk secara langsung, Gates belakangan sering mengkritik Trump terkait penanganan pandemi corona di Negeri Paman Sam dan juga keputusan untuk menghentikan dana pada WHO. "Menyedihkan bahwa bahkan AS yang Anda harapkan melakukan hal ini dengan baik, malah buruk kondisinya," katanya dalam wawancara terpisah.
Sementara itu, Trump dikabarkan “ngambek” kepada media akibat berbagai pemberitaan negatif seputar virus corona. Bahkan, ia berniat akan mengurangi konferensi pers untuk membahas perkembangan pandemi virus corona di Amerika Serikat.
(wk/nidy)