Jelang Longgarkan Lockdown Corona, Italia dan AS Justru 'Panen' Pasien Meninggal
Dunia

Italia dan AS sama-sama menjadi negara yang sangat terdampak oleh wabah virus Corona. Namun menjelang kelonggaran kebijakan lockdown di negaranya, jumlah pasien meninggal justru melonjak.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat beberapa negara yang sangat terdampak oleh wabah COVID-19. Beberapa diantaranya adalah Amerika Serikat dan Italia yang secara berturut-turut berada di urutan pertama serta ketiga daftar negara dengan jumlah pasien positif terbanyak di dunia.

Kedua negara pun kompak mengambil kebijakan pembatasan mobilitas warga, bahkan Italia memutuskan untuk melakukan lockdown nasional. Namun belakangan kedua negara sudah berencana untuk melonggarkan kebijakan tersebut karena menilai situasi sudah lebih terkendali.

Namun tampaknya keputusan itu wajib dikaji ulang. Pasalnya dilansir dari Reuters, jumlah pasien meninggal akibat COVID-19 di Italia mengalami peningkatan berdasarkan pembaruan terakhir pada Sabtu (2/5) waktu setempat.

Badan Perlindungan Masyarakat Sipil Italia menyebut ada lonjakan besar dari segi pasien meninggal akibat COVID-19, yakni dari 269 pada Jumat (1/5) menjadi 474 orang. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 21 April 2020.


Padahal sebelumnya sudah ada penurunan signifikan dari jumlah pasien meninggal akibat COVID-19 di negara tersebut. Untuk pembanding, di Lombardy yang merupakan daerah paling terdampak oleh pandemi Corona saja ada peningkatan dari 88 ke 329 pasien meninggal dalam sehari.

Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Dikutip dari CNBC, otoritas AS mencatat ada 2.909 pasien positif COVID-19 yang meninggal dalam 24 jam, dengan update terbaru dilakukan pada Jumat (1/5) waktu setempat. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam perkembangan harian AS.

Sebelumnya rekor pasien meninggal akibat COVID-19 tertinggi terjadi pada 23 April 2020 dengan 2.471 orang. Namun otoritas AS berdalih angka ini muncul karena meliputi pula pasien-pasien yang selama sudah dirawat selama berminggu-minggu namun tak kunjung sembuh, atau pasien yang masuk ke rumah sakit dalam kondisi sudah sangat parah.

Namun Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS menolak angka yang dilaporkan WHO tersebut. CDC menyebut hanya 2.349 pasien meninggal akibat COVID-19 yang mereka catat dalam rentang waktu yang sama.

"(Tetapi data itu masih harus dilengkapi) dan divalidasi melalui proses konfirmasi sesuai yurisdiksi," kata Juru Bicara CDC, Kate Grusich, dilansir pada Minggu (3/5). "CDC tidak mengetahui persis jumlah pasien yang mengalami gejala klinis COVID-19, yang dirawat di rumah sakit, dan bahkan yang meninggal karena berbagai alasan."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait