Klaim Nol Kasus Covid-19, Bagaimana Korea Utara Atasi Pandemi Saat Kekurangan Sabun dan Air Bersih?
Getty Images
Dunia

Pemerintah Korea Utara mengklaim jika negaranya sampai saat ini masih nol kasus Covid-19. Pakar kesehatan di seluruh dunia berusaha untuk mencari tahu kebenaran dari berita tersebut.

WowKeren - Korea Utara mengaku tidak memiliki kasus Virus Corona (COVID-19) meski negara mereka berbatasan langsung dengan China. Berbagai pertanyaan pun muncul, terutama mengingat fasilitas medis Korut yang kekurangan air bersih dan sabun.

Dilaporkan ABC Australia, Kamis (30/4), media milik pemerintah Korea Utara mengklaim pemerintah Kim Jong Un berhasil menangani COVID-19, karena sejauh ini tidak ada sama sekali tercatat adanya kasus Corona. Pakar kesehatan pun tidak langsung percaya. "Saya curiga mengenai angka nol itu," kata W Courtland Robinson, asisten profesor di Johns Hopkins University melansir dari Kompas, Senin (4/5).

Dugaan ini didukung pula oleh Katharina Zellwegger, pakar kesehatan dari Stanford University di Amerika Serikat. Ia mengatakan sebelum adanya wabah virus Corona, Korea Utara sudah mengalami berbagai masalah kesehatan, termasuk layanan kesehatan. "Layanan kesehatan di sana, menurut pendapat saya, sudah ditelantarkan oleh organisasi bantuan internasional, hanya beberapa saja yang bekerja di sektor ini," kata Katharina.

Courtland Robinson dari Johns Hopkins University juga mengatakan banyak rumah sakit di Korea Utara bahkan tidak memiliki akses untuk mendapatkan bahan bakar ataupun air bersih. Sementara peralatan canggih juga bisa dikatakan tidak berfungsi atau tidak tersedia. "Infrastruktur kesehatan publik lemah dan sudah tidak mendapat pendanaan memadai selama puluhan tahun," ucap Courtland.

Media Korea Utara yang dikontrol pemerintah mengatakan sejauh ini tidak ada kasus Virus Corona. Wartawan senior Jean H Lee, yang pernah menjadi kepala biro kantor berita AP di Pyongyang, mengatakan penting sekali untuk selalu mempertanyakan berita yang disampaikan media di Korea Utara.

Menurutnya, banyak warga asing yang tinggal di Korea Utara sudah meninggalkan negeri itu, sehingga susah untuk menemukan sumber independen mengenai keadaan di sana. "Kita tidak akan tahu berapa warga Korea Utara yang meninggal karena COVID-19, namun yang kita tahu sebagian besar penduduk di sana sangatlah rentan," kata Jean.


Selama dia meliput di sana, Jean H Lee mengunjungi banyak fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit terbaik di Pyongyang sampai dengan klinik lokal yang dijalankan oleh perempuan. Ia berkata sulit mengatasi Virus Corona di Korut. "Bayangkan betapa susahnya bagi mereka menghadapi pandemi seperti COVID-19. Lupakan soal ventilator, mereka bahkan tidak memiliki sabun atau hand sanitizer," imbuh Jean.

Steve Chung, peneliti politik dan budaya Korea di University of Hong Kong, mengatakan kepada ABC jika fasilitas medis di Korea Utara sangat tertinggal dibandingkan negara-negara maju. "Rumah sakit terbaik di Korea Utara mungkin 30-50 tahun tertinggal dibandingkan di negara Barat dan itu masih perkiraan yang terbaik," kata Steve.

Ia mengatakan obat-obatan dan cairan pembersih diseludupkan dari China ke Korea Utara, karena pasokan barang-barang seperti ini tidak pernah cukup, selain juga akibat kurangnya informasi kesehatan publik yang disampaikan pemerintah. Dr Jie Chen dari University of Western Australia mengatakan Korea Utara tampaknya bertekad untuk "tidak kalah menghadapi COVID-19" dan itulah alasan sebenarnya mengapa negeri itu cepat bertindak.

"Korea Utara memiliki salah satu sistem pelayanan kesehatan terburuk di dunia, sanksi PBB pun membuat negeri itu hampir tidak mendapat bantuan internasional selama pandemi." kata Dr Chen. Korea Utara mengejutkan banyak pihak ketika memutuskan menutup perbatasannya dengan China pada tanggal 22 Januari lalu.

Tempat-tempat umum, termasuk sekolah dan toko-toko ditutup, penggunaan masker diwajibkan, warga, baik muda atau lanjut usia, diminta tinggal di rumah. Namun dengan keputusan cepat seperti ini, pengamat seperti Courtland justru mengatakan aspek kesehatan lain yang dilakukan Korea Utara masih belum jelas. "Tidak ada bukti nyata mengenai kebijakan social distancing, atau juga tes besar-besaran ataupun pelacakan terhadap mereka yang terjangkit," katanya.

Jie Chen, peneliti masalah internasional di University of Western Australia mengatakan pemahaman Korea Utara soal sistem propaganda di China dan kesamaan sistem politik antara kedua negara memainkan peranan. "Korea Utara sangat khawatir di masa-masa awal karena pemimpin mereka mengerti betul bagaimana rezim otoriter bekerja," kata Dr Chen.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait