Otoritas prefektur Shizuoka tempat Gunung Fuji berada mengumumkan bahwa mereka menutup 3 jalur pendakian utama. Sebagai informasi, terdapat 4 jalur pendakian utama untuk menuju puncak gunung Fuji.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 19 Mei 2020 - 15:28 WIB
WowKeren - Gunung tertinggi di Jepang, yakni gunung Fuji, terpaksa ditutup pada musim pendakian tahun ini. Gunung Fuji ditutup untuk pertama kalinya sejak tahun 1960 akibat pandemi corona (COVID-19).
Otoritas prefektur Shizuoka tempat Gunung Fuji berada mengumumkan bahwa mereka menutup 3 dari 4 jalur pendakian utama. Sebagai informasi, terdapat 4 jalur pendakian utama untuk menuju puncak gunung Fuji.
3 di antaranya terletak di prefektur Shizuoka, yakni jalur Subashiri, jalur Gotemba, dan jalur Fujinomiya. Sedangkan satu jalur lainnya terletak di prefektur Yamanashi, yakni jalur Yoshida.
"Jalurnya dibuka pada musim panas, tapi tahun ini, kami akan menutupnya mulai 10 Juli hingga 10 September," tutur seorang pejabat prefektur Shizuoka dilansir AFP pada Selasa (19/5). "Langkah ini kami ambil supaya virus corona tidak menyebar."
Sejak prefektur Shizuoka mengelola rute-rute pendakian gunung Fuji mulai tahun 1960 silam, ini pertama kalinya mereka harus melakukan penutupan. Keputusan ini diambil usai otoritas prefektur Yamanashi mengumumkan bahwa mereka menutup jalur pendakian Yoshida.
Rute Yoshida sendiri adalah jalur yang paling populer di antara 4 jalur pendakian utama gunung Fuji. Nantinya, pondok-pondok yang berada di sepanjang 4 jalur pendakian gunung Fuji juga akan ditutup untuk sementara.
Gunung Fuji sendiri merupakan salah satu situs warisan budaya dunia UNESCO yang berjarak 100 kilometer dari Tokyo. Untuk tahun lalu, tercatat ada sekitar 236 ribu pendaki di Gunung Fuji.
Sementara itu, pandemi COVID-19 ini juga menghantam perekonomian Jepang. Dilansir dari CNN Business, ekonomi Jepang dilaporkan melambat dan mulai memasuki resesi.
Jepang, yang notabene merupakan negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia, mengalami penurunan hingga 0,9 persen pada periode Januari sampai Maret. Persentase ini lebih baik dibandingkan dengan prediksi, yakni menyusut 1,2 persen.
Namun bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, penyusutan ekonomi ini begitu tajam. Sebab dalam laporan yang diumumkan pada Senin (18/5) waktu setempat, Jepang mengonfirmasi ada penyusutan laju ekonomi sampai 3,4 persen, menandakan negara kepulauan itu memasuki masa resesi.
(wk/Bert)