Seorang penulis asal Wuhan, Fang Fang menuai kecaman dari warga Tiongkok usai mempublikasikan 'buku hariannya' selama menghadapi pandemi corona (COVID-19). Tak hanya itu, ia juga dicap sebagai pengkhianat.
- Nidya Putri
- Rabu, 20 Mei 2020 - 09:53 WIB
WowKeren - Seorang penulis asal Wuhan, Fang Fang mendadak jadi sorotan lantaran menerbitkan "buku harian" dirinya saat wabah COVID-19 berlangsung.
Selama lockdown pada Januari, Fang Fang mendokumentasikan hidupnya di Wuhan. Ia menulis di akun media sosial Weibo tentang pengalamannya menghadapi COVID-19 dan bagaimana cara bertahan hidup.
"Buku harian" tersebut saat ini sudah banyak dibaca dan telah diterbitkan. Di buku hariannya, ia menulis tentang segala sesuatu mulai dari tantangan kehidupan sehari-hari sampai dampak psikologis karena isolasi. Ia bicara soal ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, dan masalah lainnya.
Ia juga membagikan pengalamannya ketika menjemput putrinya dari bandara. "Tidak ada mobil, pejalan kaki di jalanan. Beberapa hari itu ketika kepanikan dan ketakutan mencapai puncaknya di kota. Kami berdua mengenakan masker wajah," tulis Fang Fang dilansir BBC, Rabu (20/5).
Sayangnya, buku yang diterbitkan oleh penerbit Amerika Serikat HarperCollins tersebut justru menuai kemarahan warga Tiongkok. Bahkan sebagian besar masyarakat tak setuju sampai mengencam isu tulisan-tulisn Fang Fang.
Menurut situs berita spesialis What's on Weibo, ini adalah situasi ketika opini publi berbalik menentangnya. Hal tersebut terungkap saat bukunya diterjemahkan ke bahasa Inggris dan pre-order sudah dijual di Amazon.
"Di mata masyarakat Tiongkok, versi terjemahan tulisan kritis Fang Fang tentang wabah yang terjadi Wuhan hanya akan memberikan lawan Tiongkok lebih banyak amunisi," tulis laporan tersebut. Fang Fang di sini tidak terlihat sebagai pahlawan yang memberikan kebenaran melainkan pengkhianat.
Bahkan banyak netizen di akun media sosial Weibo menuliskan Fang Fang memanfaatkan ketenarannya di masa pandemi COVID-19. "Dia memanfaatkan krisis nasional dan ini benar-benar sebuah tragedi," tulis seorang netizen di Weibo.
Di Tiongkok sendiri, cyber-nasionalisme menjadi hal biasa yang terjadi. Ribuan netizen yang marah siap membungkam kepala mereka ketika Tiongkok dikritik dan dihina oleh siapa pun.
(wk/nidy)