Pasien COVID-19 Terbanyak Kedua di Dunia, Langkah Brasil Setop Umumkan Jumlah Kasus Tuai Kecaman
Dunia
Pandemi Virus Corona

Langkah Presiden Jair Bolsonaro untuk berhenti mengumumkan jumlah kematian akibat virus ini dianggap sebagai tindakan tak berperikemanusiaan untuk menyembunyikan dampak sebenarnya corona.

WowKeren - Selain Indonesia, jumlah kasus corona (COVID-19) di sejumlah belahan lain dunia masih terus meningkat. Brasil salah satunya.

Hingga berita ini ditulis, Senin (8/6), jumlah kasus corona di negara tersebut terkonfirmasi sebanyak 691.962. Jumlah ini menempatkan Brasil pada urutan kedua sebagai penyumbang terbanyak kasus setelah Amerika Serikat.

Kendati demikian, apa yang dilakukan oleh pemerintah setempat justru menuai kecaman. Bagaimana tidak, pemerintah Brasil memutuskan untuk berhenti mengumumkan jumlah kasus harian di negara tersebut.

Tak hanya itu, Presiden Jair Bolsonaro juga berhenti mengumumkan jumlah kematian akibat virus ini. Langkah ini dianggap sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan untuk menyembunyikan dampak sebenarnya corona di Brasil.


Tak pelak, langkah ini memicu kemarahan yang meluas di Brasil. Hal ini mengingat negara tersebut telah mencatat lebih banyak kasus dibanding Rusia dan Inggris serta jumlah kematian lebih tinggi melampaui Italia.

"Upaya otoriter, tidak sensitif, tidak manusiawi dan tidak etis untuk membuat mereka yang terbunuh oleh COVID-19 tidak terlihat tidak akan berhasil," tegas Alberto Beltrame selaku presiden dewan nasional sekretaris kesehatan negara Brasil melalui pernyataan seperti dilansir dari The Guardian. "Kami dan masyarakat Brasil tidak akan melupakan mereka, maupun tragedi yang menimpa bangsa."

Pada Jumat (5/6) malam, pemerintah Brasil berhenti merilis jumlah total kasus COVID-19 maupun kematian melalui buletin hariannya dan hanya menyediakan angka harian. Jumlah kematian yang dilaporkan sebanyak 904 pada hari Sabtu, 1.005 pada hari Jumat dan 1.473 pada hari Kamis.

Tak hanya dari publik, kecaman juga datang dari kalangan dokter, asosiasi medis, maupun gubernur dari negara bagian. Sementara itu, jaksa federal mengumumkan penyelidikan pada hari Sabtu dan memberikan menteri kesehatan sementara 72 jam untuk menjelaskan keputusan tersebut.

"Manipulasi statistik adalah manuver rezim totaliter," kata Gilmar Mendes, seorang hakim mahkamah agung. "Triknya tidak akan membebaskan tanggung jawab atas genosida yang akhirnya terjadi."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts