Bisa Jadi Klaster Corona Baru, WHO Justru Dukung Demo Black Lives Matter
Dunia
Pandemi Virus Corona

WHO memberikan lampu hijau atas aksi massa anti-rasisme 'Black Lives Matter' yang tengah berkembang saat ini. Padahal demo disebut-sebut bisa menjadi klaster baru penyebaran wabah COVID-19.

WowKeren - Kematian warga sipil kulit hitam bernama George Floyd (46) asal Minneapolis, Amerika Serikat terus menjadi bahasan panas. Apalagi meninggalnya Floyd ditengarai akibat tindak rasisme yang dilakukan oleh seorang mantan aparat kepolisian yang kemudian memunculkan gelombang demonstrasi besar-besaran untuk menentang aksi rasisme serupa.

Kendati membawa pesan yang baik, demo ini pun menuai beragam komentar miring, terutama dari pakar kesehatan. Sebab mereka mengaku khawatir aksi unjuk rasa yang melibatkan sekumpulan besar massa berpotensi menjadi klaster baru penularan wabah COVID-19.

Menanggapi hal tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru memberi reaksi tak terduga. WHO justru mendukung aksi-aksi massa seperti itu lantaran juga ikut mendukung segala upaya untuk memberantas tindakan rasisme dan diskriminasi.

"WHO mendukung penuh kesamaan dan gerakan global anti-rasisme," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Senin (8/6) waktu setempat. "Kami menolak segala bentuk diskriminasi."


Sejauh ini memang belum ada bukti yang menunjukkan aksi massa meningkatkan laju penularan wabah. Namun pakar menilai situasi ini terjadi karena virus Corona membutuhkan setidaknya 14 hari untuk menunjukkan gejala klinis pada individu terinfeksi, bahkan beberapa diantaranya berakhir asimptomatik alias tak bergejala.

Kendati demikian, Tedros mendesak setiap demonstran untuk mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Mereka juga wajib berusaha untuk melindungi diri dari potensi terpapar virus Corona penyebab COVID-19.

"Kami meminta setiap demonstran untuk berunjuk rasa dengan cara yang aman," kata Tedros, seperti dilansir dari NPR, Selasa (9/6). "Bersihkan tanganmu, tutup mulutmu apabila batuk, dan gunakan masker kalau ikut dalam aksi protes."

Tedros juga menekankan soal pentingnya menjaga jarak, lebih baik bila tetap berada di rumah, jika memang merasa kurang sehat. Namun secara garis besar WHO mengaku tetap memberi lampu hijau atas aksi massa tersebut.

Di sisi lain, Direktur Program Kesehatan Darurat WHO, Michael Ryan, membenarkan perihal besarnya peluang seseorang tertular Corona di tengah aksi massa. Oleh karenanya Ryan mendesak supaya para demonstran melakukan tes COVID-19 atau aktif melakukan isolasi mandiri setelah berunjuk rasa.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts