Tingkat Kematian COVID-19 Tertinggi Ketiga di Dunia, Ini Curhatan Para Pengantar Jenazah di Brazil
Dunia

Angka kematian di Brazil akibat wabah corona (COVID-19) meningkat tiap harinya. Hal ini menjadikan Negeri Samba tersebut menempati posisi ketiga negara dengan jumlah kematian terbanyak menyusul Amerika Serikat dan Inggris.

WowKeren - Angka kematian akibat infeksi virus corona di Brazil saat ini mengalami kenaikan pesat. Bahkan wordlofmeter, mencatat total korban meninggal karena COVID-19 di Brazil sebanyak 38.497.

Hal ini lantas membuat Brazil sebagai negara ketiga yang memiliki kasus kematian terbanyak di dunia. Angka kematian Brazil kini telah melampaui Italia dan hanya berada di bawah Amerika Serikat dan Inggris yang mencatatkan lebih banyak kematian.

Meski begitu, sang Presiden, Jair Bolsonaro justru tetap mempertahankan pendiriannya yang meremehkan bahaya dari pandemi ini. Oleh karena itu, sejumlah warga pun berinisiatif mengambil peran untuk membantu kota mereka mengatasi pandemi COVID-19.

Salah satunya adalah kisah Juracy, pria yang sebelumnya bekerja sebagai supir taksi daring dan kini bekerja sebagai seorang relawan di SOS Funeral.

SOS Funeral adalah lembaga nirlaba yang mendedikasikan layanan pemakaman gratis bagi masyarakat yang tidak mampu membayar biaya pemakaman. Pada April 2020 lalu, lembaga ini telah menyelenggarakan pemakaman bagi 793 jenazah, meningkat empat kali lipat dari biasanya.

Juracy pun mengungkapkan kisahnya saat hari pertama bekerja untuk SOS Funeral. Dia merasa sedikit gemetar karena ada begitu banyak kasus COVID-19. "Kemudian satu demi satu, saya terus bekerja hingga saya tidak bisa menghitung lagi berapa yang sudah saya makamkan," katanya.

Juracy menyebut bahwa momen ketika mereka menjemput jenazah untuk dimakamkan merupakan pukulan berat bagi keluarga yang ditinggalkan, oleh karena itu dia selalu berusaha seramah mungkin dan mencoba menenangkan keluarga korban. Selain itu, sesuai dengan prosedur yang berlaku, dia hanya bisa membawa dua anggota keluarga untuk menyaksikan prosesi pemakaman. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Juracy harus menjalani proses disinfektasi dengan ketat.

Dia membersihkan mobil yang baru digunakan dan juga berbagai perlengkapannya. Meski demikian, dia menyatakan kekhawatirannya bahwa banyak orang di Brazil yang meremehkan bahaya dari virus corona.

"Saya kira hanya sebagian orang yang peduli dengan kebersihan dirinya, sisanya tidak," ujar Juracy. "Mereka berpikir bahwa ini hanyalah bagian dari perseteruan politik. Namun itu tidak benar, ini (pandemi) sangat nyata."


Di Manaus sendiri lebih dari 1.400 orang telah meninggal dunia akibat COVID-19. Angka ini menempatkan kota tersebut menjadi kota kedua dengan angka kematian tertinggi di Brazil.

Upaya untuk melawan pandemi ini masih terus dilakukan. Seperti mengubah salah satu sekolah di Manaus menjadi rumah sakit darurat yang dikhususkan untuk penderita COVID-19.

Rumah sakit tersebut telah menampung lebih dari 160 pasien positif COVID-19. Dokter dan tenaga medis telah membuat sejenis kelambu khusus yang digunakan untuk menutupi pasien untuk mencegah penularan virus corona. Kelambu ini juga memberi mereka ventilasi yang lebih baik.

Perlu diketahui, Manaus adalah kota terbesar ketujuh di Brasil dan pusat kota yang paling terpencil dengan 2 juta penduduk. Suku Amazonas juga memiliki jumlah penduduk asli terbesar di negara ini, banyak di antaranya sekarang tinggal di kota, termasuk di Manaus.

Kemiskinan, kekurangan gizi dan penggusuran membuat penanggulangan virus corona menjadi tantangan yang lebih besar bagi komunitas-komunitas penduduk lokal ini. Beberapa di antara mereka adalah warga Brazil yang paling rentan. Di Parque das Tribos, di pinggiran Manaus, beberapa wanita sibuk dengan mesin jahit. Sejarah telah mengajarkan orang bahwa virus dari luar selalu membawa kehancuran.

Satu-satunya pertahanan mereka sekarang adalah masker buatan sendiri, tetapi dibutuhkan lebih banyak masker untuk melindungi mereka. "Kami sudah memiliki banyak orang dengan gejala, kami tidak punya dokter di sini, atau seorang perawat untuk menjaga kami," kata warga setempat Vanderleia dos Santos.

Berdasarkan penuturannya selama krisis virus corona, masyarakat adat di kota tersebut dirawat oleh sistem kesehatan masyarakat, yang dikenal sebagai SUS. Masyarakat adat pedesaan memiliki layanan kesehatan khusus mereka sendiri, Sekretariat Khusus untuk Kesehatan Masyarakat Adat (Sesai).

Ia khawatir sistem itu menutupi jumlah sebenarnya dari penduduk asli yang menderita COVID-19. Dia mengatakan pribumi tidak terdaftar, melainkan mereka dimasukkan sebagai 'warga kulit putih'. "Identitas kami dipertanyakan sepanjang waktu, dan itu berarti kita tidak bisa memetakan kerabat yang bisa terinfeksi," katanya.

"Penduduk asli di daerah perkotaan merasa ditinggalkan, mereka terkena penularan dan kematian karena mereka tidak segera dirawat," sahut Ketua Asosiasi Masyarakat Adat Brazil Sonia Guajajara.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait