Sebuah utas di Twitter yang menunjukkan biaya perawatan pasien COVID-19 hingga harga puluhan juta menjadi viral di internet. Juno (35), sang pembuat utas pun menceritakan pengalamannya tersebut.
- Nidya Putri
- Jumat, 12 Juni 2020 - 09:47 WIB
WowKeren - Sebuah postingan yang membongkar mahalnya biaya perawatan pasien corona (COVID-19) menjadi sorotan di media sosial. Dalam sebuah utas Twitter menunjukkan total biaya perawatan pasien Corona ternyata mencapai puluhan juta rupiah.
Adalah Juno (35), seorang pejuang corona yang berhasil sembuh setelah merasakan gejala virus mematikan tersebut pada 13 Maret lalu. Ia membeberkan jika biaya yang dikeluarkan untuk sembuh berjumlah Rp 70 juta.
Namun, jumlah biaya tersebut sudah termasuk sebelum dia dinyatakan positif menjalani perawatan selama 9 hari di rumah sakit swasta di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Hingga dirawat di RS rujukan COVID-19.
Hasil tes swab menunjukkan dirinya positif Corona, beruntung ia mendapat rekomendasi dari salah satu dokter di RS rujukan COVID-19 untuk segera dirawat di sana. Akhirnya Juno pun menjalani hari-harinya melawan Corona di RS Wisma Atlet selama sebulan penuh.
"Kemudian kalau misalkan di RS Wisma Atlet selama sebulan di rumah sakit itu gratis semuanya, selama sebulan itu saya gratis," ujar Juno. "Mendapatkan fasilitas, pengobatan, dan lain-lain itu gratis saya nggak bayar apapun."
"Kalau di RS swasta yang di awal sebelum ke RS Wisma Atlet dan sesudah ke Wisma Atlet itu total saya menghabiskan 70 juta, dan itu dicover sama asuransi saya," lanjutnya. "Dan itu hanya sifatnya pengobatan ya, ibaratnya saya cuma numpang nginep doang, karena ya saya nggak ada tindakan apapun karena memang Puji Tuhan nggak ada sesak napas atau hal-hal yang begitu mengkhawatirkan gitu ya."
Lebih lanjut, Juno mengaku bahwa awalnya, ia tidak berpikir sama sekali apabila dirinya akan positif corona. Sang dokter yang memeriksanya pun tidak mengatakan apapun, termasuk tidak menunjukkan indikasi apapun terkait keluhan gejala yang Juno rasakan dengan gejala virus corona.
"Jadi waktu itu tuh saya pernah ngerasain gejala batuk itu di tanggal 13 Maret. Jadi batuknya itu masih mild (ringan) gitu, terus saya mulai ke dokter itu tanggal 16 Maret, saya mulai ke dokter, pas mengantri depan ruangan dokter, itu saya baru demam," jelas Juno dilansir Detikcom, Jumat (12/6).
Gejala batuk dan demam yang Juno rasakan tidak disebut mengarah ke virus Corona. Sang dokter percaya Juno tidak terinfeksi COVID-19 meski belum mengambil swab test dan tidak ada hasil pasti.
"Meski sudah dicek ulang, dikasih obat-obatan saya konsumsi obat-obatam itu, tetapi gejala-gejalanya itu malah nambah, demam turun, tapi gejalanya nambah gitu ya," papar Juno. "Saya terus ada mual, saya hilang nafsu makan, terus ada diare, ada keringat malam juga, walaupun ada AC tapi keringetan satu kasur itu mbak."
Juno akui gejala Corona terus bertambah dan berdatangan setiap harinya. "Beberapa hari, gradual, besoknya beda, besoknya nambah lagi-nambah lagi, ada aja gitu, nah batuknya juga masih heboh, terus saya hubungi dokternya, Dok kok saya nggak ada perubahan. Saya ceritain kan ada penambahan gejala, terus dokternya langsung bilang, oh coba kamu ke dokter spesialis paru yah," akunya.
Hingga akhirnya, muncul rasa curiga kalau selama ini gejala yang ia rasakan mengarah ke gejala corona. Benar saja, saat dirinya konsultasi dengan spesialis paru, dan diperiksa foto thorax, terlihat infiltrat di paru-paru. Meski begitu ia tidak langsung didiagnosis virus Corona, ia dinyatakan mengidap broncopneumonia karena belum melakukan swab test.
"Dari situ kemudian dokternya baru bilang harus dirawat inap, yasudah saya rawat inap," curhatnya. "Sudah lemas banget Mbak mau tanda tangan dokumen rumah sakit aja sudah gemeter tangan saya, bener-bener nggak kuat dan gemetaran, gitu."
Selama 9 hari jalani perawatan di sebuah RS swasta di Jakarta Selatan, di hari ke-4 Juno melaporkan perbaikan. Kembali nafsu makan, dan di hari ke 5, juga 6, kondisi paru-paru Juno dinyatakan membaik. "Baru di hari ke 10 setelah saya pulang, itu hasilnya keluar dan (saya dinyatakan) positif (Corona). Jadi dari situ 2 hari sebelum saya terima hasil, saya ingat dada saya ada nyeri, itu sudah pulang dari RS," imbuhnya.
Usai dinyatakan positif, akhirnya Juno diberi rekomendasi untuk langsung dirawat di RS Darurat Wisma Atlet. Ia masuk ke Wisma Atlet di 17 April dan keluar 18 Mei, tepatnya satu bulan lebih di sana.
"Saya mengalami perkembangan keluhan yang tadinya nyeri cuma di dada tiba-tiba ada nyeri di tangan, di bahu, ada di paha dalam, semua jenis nyerinya sama jadi kaya ditusuk jarum, tapi ya ditusuknya cuma sebentar. Sakitnya sih nggak seberapa tapi tiba-tiba kalau kita lagi aktivitas tiba-tiba ada yang kaya disamber petir," ungkap Juno menceritakan gejala yang bertambah saat dirawat di RS Wisma Atlet.
Setelah 4 kali melakukan swab test di RS Wisma Atlet, Juno dinyatakan dua kali negatif Corona dan diperbolehkan untuk pulang. Karena masih merasakan gejala Corona yang cukup mengganggu aktivitas WFH-nya, ia pun kembali dirawat di RS semula sebelum ke Wisma Atlet.
Total perawatan yang ia habiskan selama berjuang melawan Corona bahkan mencapai 70 juta rupiah. Meski begitu, hingga kini ia menyebut sebagian besar nyeri-nyeri di tubuh sudah hilang.
(wk/nidy)