LAPAN Buka Suara Soal Fenomena Formasi Awan di Langit Pulau Jawa
SerbaSerbi

Kondisi langit pada Sabtu (13/6) pagi tampak berbeda dari biasanya. Hal itu disebabkan karena adanya rentetan awan putih dengan pola sejenis yang membentang luas.

WowKeren - Fenomena alam selalu menjadi hal yang menarik untuk diamati. Tak hanya di malam hari, namun juga siang hari. Seperti yang terjadi di langit Pulau Jawa pada Sabtu (13/6) pekan lalu.

Hal itu terlihat dari foto yang diunggah oleh warganet melalui media sosial. Kondisi langit pagi itu tampak berbeda dari biasanya. Hal itu disebabkan karena adanya rentetan awan putih dengan pola sejenis yang membentang luas.

Awan-awan ini terlihat semakin cantik dengan latar langit biru di belakangnya. Dilansir Kompas, Selasa (16/5), formasi awan unik ini terlihat di berbagai provinsi mulai dari Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat.

Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) pun buka suara mengenai fenomena ini. Peneliti LAPAN Erma Yulihastin menyebut formasi langit yang terlihat adalah jenis altokumulus yang ada di ketinggian 2 hingga 6 kilometer di atas permukaan Bumi.


Awan ini bisa dikatakan sebagai penanda akan terjadinya badai. Jika muncul di pagi hari maka kemungkinan akan ada badai di sore harinya.

"Berdasarkan pemantauan terhadap Sadewa LAPAN, tidak ada awan konvektif yang terbentuk di atas Pulau Jawa sepanjang hari itu, terutama pada sore hari," kata Erma masih dilansir Kompas. "Hujan badai juga tidak terjadi pada sore hari di Pulau Jawa."

Awan ini muncul di sejumlah wilayah yang luas. Sehingga menurut Erma, fenomena itu menunjukkan beberapa hal tertentu. Salah satunya pertanda akan munculnya awan jenis cumulus congestus, mengingat fenomena ini terjadi di musim kemarau.

"Awan cumulus congestus yang dapat menghasilkan proses konveksi dan hujan terus terjadi," jelas Erma. "Namun, karena atmosfer dalam kondisi stabil, maka awan rendah tersebut terperangkap di ketinggian 2-6 km sebagai awan altokumulus."

Lalu kemunculan altokumulus juga bisa mengalami proses pematangan yang mana hal ini akan menaikkan udara secara vertikal. Alhasil hal ini akan memicu pembentukan awan vertikal yang berpotensi menghasilkan hujan.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait