Deretan Puisi Sapardi Djoko Damono Paling Dikenang, 'Aku Ingin' Hingga 'Hujan Bulan Juni'
Selebriti

Sapardi dikenal dengan tulisan-tulisannya yang sederhana namun mengandung makna yang mendalam. Berikut adalah kumpulan puisi paling fenomenal sang maestro yang tak akan lekang oleh zaman.

WowKeren - Tanah Air kembali kehilangan salah satu sosok legendaris paling menginspirasi. Sastrawan kondang pencipta puisi "Aku Ingin", Sapardi Djoko Damono, meninggal dunia pada Minggu (19/7) dalam usianya yang ke-80 tahun.

Sastrawan kebanggaan Indonesia tersebut meninggal dunia di Rumah Sakit Eka BSD. Sebelumnya, mendiang Sapardi dirawat lantaran menurunnya fungsi organ tubuh. Sonya Sondakh selaku kerabat Sapardi menyebut penyebab kematian sang maestro adalah karena faktor usia yang membuat fungsi organ menurun dan infeksi berat.

Pria kelahiran 20 Maret 1940 itu adalah salah satu sastrawan besar milik Indonesia yang telah berkreasi sejak remaja. Di usia 17 tahun, sajak yang ia ciptakan bahkan sudah menjadi sajak wajib di pertemuan Kesenian Nasional Indonesia sampai tiga kali.


Sapardi dikenal dengan tulisan-tulisannya yang sederhana namun mengandung makna yang mendalam. Butuh berapa kali pengulangan untuk bisa memahami kata-kata sang maestro walaupun sebenarnya ia bilang bahwa puisi bukan untuk dipahami, tapi dihayati.

Dalam puisinya, Sapardi kerap menggunakan nuansa alam untuk menghidupkan kata demi kata. Hujan, daun, bunga, pagi, malam, adalah sejumlah kata yang kerap menginspirasinya.

Penyair angkatan 1970-an ini telah menghasilkan banyak karya puisi hingga cerpen. Beberapa karya Sapardi Djoko Damono yang terkenal adalah puisi "Aku Ingin, "Hujan Bulan Juni", "Yang Fana Adalah Waktu", dan "Pada Suatu Hari Nanti".

Berikut adalah kumpulan puisi paling fenomenal sang maestro yang tak akan lekang oleh zaman.

(wk/luth)

1. Aku Ingin


Aku Ingin

  • "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
  • dengan kata yang tak sempat diucapkan
  • kayu kepada api yang menjadikannya abu

  • Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
  • dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
  • awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"

Puisi "Aku Ingin" menjadi salah satu karya Sapardi yang paling dikenal, sekaligus beralih menjadi lagu. Meski singkat, namun makna dari sajak puisi ini cukup dalam. Puisi ini menceritakan bagaimana seseorang mencintai pujaannya secara sederhana dan apa adanya dengan pengorbanan cinta yang tiada tara serta tanpa syarat.

2. Hujan Bulan Juni


Hujan Bulan Juni

  • "Tak ada yang lebih tabah
  • dari hujan bulan Juni
  • Dirahasiakannya rintik rindunya
  • kepada pohon berbunga itu

  • Tak ada yang lebih bijak
  • dari hujan bulan Juni
  • Dihapusnya jejak-jejak kakinya
  • yang ragu-ragu di jalan itu

  • Tak ada yang lebih arif
  • dari hujan bulan Juni
  • Dibiarkannya yang tak terucapkan
  • diserap akar pohon bunga itu."

Siapa sangka bahwa film "Hujan Bulan Juni" ini diadaptasi dari perpaduan sebuah buku kumpulan puisi dengan berjudul sama. Film yang mengangkat puisi dari Sapardi ini berhasil menarik para penonton.

Secara keseluruhan, "Hujan Bulan Juni" menceritakan tentang bagaimana penantian seseorang terhadap orang yang dicintainya. Ia dengan sabar menunggunya tanpa lelah dan tetap tabah yang berujung sebuah balasan manis atas perjuangannya tersebut.

3. Pada Suatu Hari Nanti


Pada Suatu Hari Nanti

  • "Pada suatu hari nanti,
  • jasadku tak akan ada lagi,
  • tapi dalam bait-bait sajak ini,
  • kau tak akan kurelakan sendiri.

  • Pada suatu hari nanti,
  • suaraku tak terdengar lagi,
  • tapi di antara larik-larik sajak ini.

  • Kau akan tetap kusiasati,
  • pada suatu hari nanti,
  • impianku pun tak dikenal lagi,
  • namun di sela-sela huruf sajak ini,
  • kau tak akan letih-letihnya kucari."

Sebagai seorang pujangga, Sapardi tentu tak ingin hanya dikenal sesaat saja. Ia pun juga ingin nama dan seluruh karya-karyanya dikenang serta abadi sepanjang masa. Hal yang dirasakannya ini pun dituangkan ke dalam puisi "Pada Suatu Hari Nanti".

4. Yang Fana Adalah Waktu


Yang Fana Adalah Waktu

  • "Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
  • memungut detik demi detik,
  • merangkainya seperti bunga
  • sampai pada suatu hari
  • kita lupa untuk apa

  • 'Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?' tanyamu.
  • Kita abadi"

Inti dari puisi ini ialah tentang sisi negatif dimana masih ada manusia yang menyia-nyiakan waktu. Padahal waktu merupakan sesuatu yang amat berharga dalam sebuah perjalanan kehidupan manusia.

"Yang Fana Adalah Waktu" merupakan bentuk kritik dari Sapardi, betapa menyedihkan orang-orang yang menghabiskan waktu pada hal-hal kurang bermanfaat. Apalagi jika hal tersebut hanya bersifat sementara dan fana. Akibat dari itu semua, akhirnya akan timbul suatu penyesalan yang umumnya datang terlambat.

5. Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta


Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta

  • "Mencintai angin harus menjadi siut
  • Mencintai air harus menjadi ricik
  • Mencintai gunung harus menjadi terjal
  • Mencintai api harus menjadi jilat
  • Mencintai cakrawala harus menebas jarak

MencintaiMu harus menjadi aku"

"Sajak Kecil Tentang Cinta" juga mengibaratkan bagaimana seseorang dalam mencintai sesuatu hal, yang harus dapat beradaptasi dan memposisikan diri dalam perspektif bagian dari sesuatu hal yang ingin dicintai. Itu sebabnya Sapardi memilih penggunaan diksi yang sepadan dan mengambil bagian dari alam semesta sebagai perumpamaannya.

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!