Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril, mengatakan jika proses seleksi yang dilakukan bersifat sangat transparan dan akuntabel
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 23 Juli 2020 - 10:44 WIB
WowKeren - Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pengurus Pusat Muhammadiyah menyatakan mundur dari program Organisasi Penggerak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu alasannya karena mereka menilai penetapan ormas yang lolos seleksi tidak jelas.
"Kriteria pemilihan organisasi masyarakat yang ditetapkan lolos evaluasi proposal sangat tidak jelas," kata Muhammadiyah. "Karena tidak membedakan antara lembaga CSR yang sepatutnya membantu dana pendidikan dengan organisasi masyarakat yang berhak mendapat bantuan pemerintah."
Terkait hal ini, pihak Kemendikbud angkat bicara. Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril, mengatakan jika proses seleksi yang dilakukan sangat transparan.
"Proses dari awal itu kan proses yang sangat terbuka transparan dan akuntabel," kata Syahril dilansir dari Detik, Kamis (23/7). "Dan mulai dari awal semuanya berdasarkan dengan kriteria dan peraturan-peraturan yang sudah ada."
Lebih jauh, ia menyebut jika pihaknya memang menggunakan metode double blind review. Dalam metode ini, evaluator akan memeriksa kelengkapan dan substansi proposal secara independen. Sehingga, elevator tidak akan melihat apakah organisasi yang mengajukan proposal merupakan kategori besar atau kecil.
"Jadi sebetulnya keterbukaan dalam segi peraturan itu bukan dan bisa siapa saja, baik organisasi kecil maupun organisasi yang besar," ujarnya menjelaskan. "Ada juga organisasi yang kecil yang mungkin lolos, ada juga yang besar dan tidak lolos. Semuanya akan digunakan metode blind review tadi. Jadi, evaluator nggak tahu ini siapa."
Selain itu, organisasi yang proposalnya dinyatakan lulus seleksi sudah terkonfrmasi kelengkapan surat dan substansinya. Sementara itu untuk organisasi yang masih belum lolos, Kemendikbud akan memberikan arahan pembelajaran agar mereka bisa menyempurnakan penulisan proposal.
Ia menegaskan jika pada intinya bukan terletak pada siapa yang lolos seleksi tersebut. "Ini adalah tentang anak-anak Indonesia, sebenarnya pemenangnya itu harusnya anak-anak Indonesia. Jadi bukan masalah organisasi, dan itu yang kita tekankan, karena semangatnya kan gotong royong," tegas Syahril.
(wk/zodi)