Selama dua pekan terakhir, Korsel menghadapi gelombang wabah baru dengan lebih dari 3.800 kasus. Otoritas kemudian kembali memberlakukan pembatasan sosial di Seoul dan sekitarnya.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 28 Agustus 2020 - 08:44 WIB
WowKeren - Korea Selatan melaporkan 441 kasus baru COVID-19 pada Kamis (27/8) waktu setempat. Ini merupakan kasus harian tertinggi sejak virus corona pertama kali diidentifikasi di negeri Ginseng tersebut.
Selama dua pekan terakhir, Korsel menghadapi gelombang wabah baru dengan lebih dari 3.800 kasus. Otoritas kemudian kembali memberlakukan pembatasan sosial di Seoul dan sekitarnya. Bahkan pada Kamis, kota metropolitan Seoul melaporkan 154 kasus baru, penambahan harian tertinggi sejauh ini.
"Menerapkan langkah-langkah kebersihan saja tampaknya tidak cukup. Kita harus mengurangi pertemuan-pertemuan," kata pejabat senior Kementerian Kesehatan Korsel, Yoon Tae-ho. "Kami terbuka untuk setiap kemungkinan, termasuk pemberlakuan pembatasan sosial Tingkat III," tambahnya.
Di hari yang sama, Majelis Nasional menutup gedung kantor setelah seorang jurnalis yang bertugas meliput agenda parlemen dinyatakan positif terpapar COVID-19. Selain parlemen, beberapa kantor pemerintah juga ditutup dan seluruh stafnya diminta bekerja dari rumah.
Sebelumnya, otoritas kesehatan Korea Selatan memperingatkan soal peningkatan mutasi galur (strain) virus corona (COVID-19) di tengah melonjaknya kasus baru di negara tersebut. Disebutkan bahwa galur ini paling umum terjadi di Amerika Utara, Eropa, dan Timur Tengah.
Namun, para pejabat menambahkan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mutasi itu bersifat lebih menular. Sementara menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Korea Selatan telah mendeteksi galur GH dari virus tersebut. Galur ini paling umum terjadi di Amerika Utara, Eropa, dan Timur Tengah.
Otoritas kesehatan Korea Selatan sendiri pertama kali menemukan jenis ini pada April. Pejabat di pusat kendali penyakit menambahkan bahwa jenis mutasi menyumbang 77,4 persen dari 685 pasien yang diperiksa.
Korea Selatan mengalami lonjakan signifikan dalam jumlah kasus COVID-19, yang meningkatkan tekanan pada pemerintah Presiden Moon Jae-in untuk memberlakukan pembatasan ketat guna membendung penyebaran virus.
"Sudah sekitar seminggu sejak kami menerapkan skema jarak sosial tingkat kedua. Belum ada keputusan kapan kebijakan tingkat ketiga akan diberlakukan," kata Jeong Eun-kyeong, direktur KCDC.
"Tapi, jika kita gagal dalam membendung penyebaran virus minggu ini dan menerapkan skema tingkat ketiga, akan ada konsekuensi yang signifikan. Ini bukan hanya masalah pasien baru. Akan ada dampak besar pada masyarakat dan ekonomi,” tambah Eun-kyeong.
Sejauh ini, Korea Selatan telah melaporkan total 18,706 kasus. Ibu Kota Seoul dan Provinsi Gyeonggi melaporkan jumlah kasus terbanyak. Dari total kasus, pasien berusia 60 tahun ke atas mencapai lebih dari 40 persen.
(wk/luth)