Korea Selatan melaporkan 441 kasus baru COVID-19 pada Kamis (27/8) waktu setempat. Ini merupakan kasus harian tertinggi sejak virus corona pertama kali diidentifikasi di negeri Ginseng tersebut.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 28 Agustus 2020 - 09:42 WIB
WowKeren - Pemerintah Korea Selatan mendesak para pelaku bisnis untuk membuat karyawan bekerja dari rumah setelah melaporkan jumlah kasus virus corona harian tertinggi sejak Maret. Negara itu juga melaporkan risiko klaster baru di layanan call center dan gudang logistik.
Korea Selatan melaporkan 441 kasus baru COVID-19 pada Kamis (27/8) waktu setempat. Ini merupakan kasus harian tertinggi sejak virus corona pertama kali diidentifikasi di negeri Ginseng tersebut, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC).
Selama dua pekan terakhir, Korsel menghadapi gelombang wabah baru dengan lebih dari 3.800 kasus. Otoritas kemudian kembali memberlakukan pembatasan sosial di Seoul dan sekitarnya. Bahkan pada Kamis, kota metropolitan Seoul melaporkan 154 kasus baru, penambahan harian tertinggi sejauh ini.
"Menerapkan langkah-langkah kebersihan saja tampaknya tidak cukup. Kita harus mengurangi pertemuan-pertemuan," kata pejabat senior Kementerian Kesehatan Korsel, Yoon Tae-ho. "Kami terbuka untuk setiap kemungkinan, termasuk pemberlakuan pembatasan sosial Tingkat III," terangnya.
Di hari yang sama, Majelis Nasional menutup gedung kantor setelah seorang jurnalis yang bertugas meliput agenda parlemen dinyatakan positif terpapar COVID-19. Selain parlemen, beberapa kantor pemerintah juga ditutup dan seluruh stafnya diminta bekerja dari rumah.
Sementara itu, pihak berwenang mengatakan lonjakan baru-baru ini sebagian besar berkaitan dengan wabah di sebuah gereja dan pada unjuk rasa antipemerintah awal bulan ini. Mereka memperingatkan tentang kemungkinan klaster baru di tempat kerja yang padat.
"Harap melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap faktor risiko di tempat kerja, di mana lingkungan kerja sangat rentan terhadap infeksi, seperti call center dan gudang logistik," kata Menteri Kesehatan Park Neung-hoo.
"Untuk mengurangi penularan di tempat kerja, harap kurangi jumlah staf dengan jam kerja yang fleksibel, bekerja dari rumah dan jam kerja yang berkala."
Pada Maret, Korea Selatan melaporkan wabah di layanan call center, sementara setidaknya 100 kasus dikaitkan dengan pusat logistik yang dijalankan oleh raksasa e-commerce Coupang Corp pada bulan Juni. Park mengatakan setidaknya 80 persen infeksi selama seminggu terakhir berasal dari daerah metropolitan Seoul yang padat penduduk dan banyak yang terkait dengan gereja dan unjuk rasa politik.
Kasus-kasus baru itu membuat jumlah total infeksi virus corona di Korea Selatan menjadi 18.706 dan penghitungan kematian COVID-19 menjadi 313. Sebanyak 933 infeksi telah dilacak ke wabah di gereja, kata KCDC. Otoritas kesehatan sementara itu telah mengirim daftar setidaknya 51.000 orang, yang telah dikategorikan terkait dengan unjuk rasa pada 15 Agustus, kepada pemerintah daerah, kata pejabat kementerian kesehatan Yoon Tae-ho dalam sebuah penjelasan.
Lonjakan kasus virus corona baru terjadi ketika pemerintah mendorong reformasi perawatan kesehatan, yang telah memicu penentangan dari dokter, yang memicu pemogokan. Otoritas kesehatan sekarang mempertimbangkan kemungkinan memberlakukan jarak sosial tertinggi, di mana sekolah dan bisnis akan didesak untuk tutup, yang akan menimbulkan lebih banyak kerugian pada ekonomi terbesar keempat di Asia itu.
(wk/luth)